Lakso: Kuliner Gurih Khas Palembang yang Menggoda Selera

Selamat datang, para pembaca Inkarnasi Kata! Pada artikel kali ini, kami akan menyajikan informasi tentang kuliner tradisional yang berasal dari Kota Palembang. Kuliner yang akan kami bagikan kali ini adalah lakso. Yuk, kita simak mengenai kuliner ini.

Lakso, makanan khas Palembang. (sumber: www.fimela.com)

Lakso adalah hidangan mie gurih khas Indonesia yang disajikan dalam kuah berbahan santan kelapa berwarna kekuningan yang gurih. Biasanya, hidangan ini dicampur dengan ikan dan ditaburi bawang goreng. Lakso merupakan salah satu kuliner khas dari daerah Palembang, Provinsi Sumatera Selatan, Indonesia.

Secara sederhana, Lakso sering dianggap sebagai versi laksa yang berasal dari Palembang. Namun, sebenarnya makanan ini memiliki perbedaan yang mencolok dengan laksa yang umumnya ditemukan di negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura. Lakso juga seringkali disamakan dengan burgo, meskipun burgo adalah panekuk yang terbuat dari tepung beras, yang kemudian dilipat, dipotong, dan disajikan dalam kuah santan berwarna putih. Di Palembang, Lakso bersama dengan burgo menjadi pilihan jajanan populer untuk sarapan.

Sejarah

Kata "laksa" memiliki asal-usul yang beragam. Dalam Bahasa Melayu Kuno, kata tersebut berasal dari "laksha," yang berarti banyak atau "sepuluh ribu," dan telah tercatat dalam Prasasti Kedukan Bukit di Palembang, Sumatera Selatan. Di Palembang, hidangan ini disebut dengan nama "Lakso." Namun, ada juga yang berpendapat bahwa kata "Laksa" mungkin berasal dari bahasa Persia.

Demikianlah informasi singkat mengenai lakso, makanan khas dari Kota Palembang. Bagi yang ingin mencicipi lakso, Anda dapat mengunjungi para penjual di daerah Anda atau mencari berbagai resep lakso dan mencoba membuatnya sendiri. Sampai jumpa di artikel kuliner berikutnya!

Share:

Rumah Singgah Soekarno di Palembang: Jejak Bersejarah Sang Proklamator

Rumah Pengasiangan Bung Karno di Palembang. (sumber: Urban Id)

Provinsi Sumatera Selatan, khususnya Kota Palembang, adalah tempat yang menyimpan banyak jejak sejarah yang ditinggalkan oleh Ir. Soekarno, proklamator kemerdekaan Republik Indonesia dan presiden pertama Indonesia. Salah satu jejak bersejarah tersebut adalah rumah singgah Soekarno di Jalan KHA Azhari, Kelurahan 3-4 Ulu, Kecamatan Seberang Ulu I, Kota Palembang.

Menurut cerita dari Abdurrahman, cucu dari H. Anang, rumah ini pernah menjadi tempat singgah bagi Ir. Soekarno dan istrinya, Inggit Ginarsih, pada tahun 1940-an menjelang proklamasi kemerdekaan RI. Soekarno sengaja datang ke rumah ini setelah diundang oleh salah satu sahabatnya, Raden Panani, yang saat itu telah diasingkan dari Bengkulu sebelum Soekarno pergi ke Jakarta.

Raden Panani adalah seorang pengajar di organisasi Muhammadiyah yang diundang dari Jawa ke Palembang dan kemudian diangkat sebagai anak oleh H. Anang. Kedekatan Raden Panani dengan Soekarno memungkinkan Soekarno untuk berkumpul dengan para guru Muhammadiyah, termasuk Raden Panani, yang rumahnya tidak jauh dari rumah singgah ini.

Rumah ini, yang sering disebut sebagai rumah Depok oleh masyarakat sekitar, dibangun sekitar tahun 1938 oleh H. Anang. H. Anang adalah seorang pejuang kemerdekaan dan tokoh penting dalam organisasi Islam Muhammadiyah di Kota Palembang. Rumah ini adalah contoh arsitektur Belanda yang masih berdiri hingga saat ini.

Dalam cerita yang diteruskan oleh Abdurrahman, Soekarno dan istrinya tidak hanya singgah di rumah H. Anang, tetapi juga diundang untuk makan bersama di rumah lain yang dimiliki oleh H. Anang di belakang rumah singgah tersebut. Diketahui bahwa Soekarno menyukai makanan seperti sayur kangkung dan belut goreng.

Selain menjadi tempat singgah Soekarno, rumah ini juga memiliki kisah cinta antara Soekarno dengan Fatmawati. Hubungan antara Fatmawati, ibu dari Megawati Soekarnoputri, dengan keluarga H. Anang membuat Soekarno jatuh hati pada Fatmawati. Fatmawati aktif dalam organisasi remaja putri Muhammadiyah dan sering bertemu dengan H. Anang, sehingga memungkinkan Soekarno dan Fatmawati untuk berkenalan.

Rumah singgah Soekarno ini menjadi cagar budaya pada tahun 2018 oleh pemerintah Kota Palembang melalui Dinas Kebudayaan. Namun, Abdurrahman dan keluarganya harus menanggung biaya perawatan dan menjaga rumah ini sendiri sejak ditetapkan sebagai cagar budaya. Mereka berharap agar pemerintah dapat memberikan perhatian lebih terhadap rumah singgah bersejarah ini, terutama dalam hal perawatan dan pemeliharaan.

Meskipun jejak sejarah dalam bentuk foto-foto dari kunjungan Soekarno ke rumah ini telah diserahkan kepada pihak terkait, rumah singgah ini tetap menjadi saksi bisu perjalanan bersejarah sang proklamator dan merupakan bagian yang penting dari warisan sejarah Palembang dan Indonesia.

Share:

Kampung Kapitan: Memelihara Sejarah dan Budaya di Tepi Sungai Musi, Palembang

Rumah Kapitan. (sumber: Wikipedia)

Kampung Kapitan adalah sebuah kawasan bersejarah yang terletak di kota Palembang, Sumatra Selatan, Indonesia. Kawasan ini, yang terletak di tepi Sungai Musi di sisi barat Jembatan Ampera, juga dikenal dengan nama Tuju Ulu. Kampung Kapitan memainkan peran penting dalam sejarah Palembang karena merupakan tempat pertama kali dihuni oleh warga keturunan Tionghoa pada masa penjajahan Belanda.

Sejarah Kampung Kapitan

Kampung Kapitan memiliki sejarah yang kaya, dimulai pada tahun 1644 pada abad ke-17. Kawasan ini dinamai "Kampung Kapitan" karena di sini terdapat tiga rumah perwira yang merupakan tempat tinggal para kapitan. Salah satu tokoh berpengaruh dalam komunitas Tionghoa Palembang pada waktu itu adalah Lioang Taow Ming. Karena pengaruhnya, ia diangkat sebagai perwira oleh pemerintahan Belanda dan diberikan tanggung jawab untuk mengatur wilayah 7 Ulu dan sekitarnya.

Pemimpin masyarakat Tionghoa Palembang pertama adalah Tjoa Kie Tjuan, yang memegang pangkat mayor. Ia memimpin wilayah 7 Ulu dari tahun 1830 hingga 1855. Setelahnya, putranya, Tjoa Han Him, dengan pangkat kapten atau kapten, menggantikan ayahnya. Tjoa Han Him juga memiliki wewenang untuk mengatur wilayahnya sendiri dan mengawasi pajak. Di masa pemerintahannya, daerah ini diberi nama Kampung Kapitan, yang menjadi gelar dan julukannya.

Awalnya, pemerintah Belanda memberikan wilayah ini karena khawatir terhadap kelompok keturunan Tionghoa di Palembang. Namun, seiring berjalannya waktu, masyarakat Tionghoa menjadi perantara perdagangan dan mendapatkan posisi istimewa dalam pemerintahan Belanda.

Kampung Kapitan juga menjadi pusat perdagangan di kota Palembang, dan pedagang yang lelah sering singgah di rumah Kapitan untuk beristirahat.

Ruang Terbuka dan Bangunan Bersejarah

Kampung Kapitan memiliki ruang terbuka di depan rumah Kapitan. Pada tahun 1937, ruang ini memainkan peran penting sebagai pertemuan bagi pejalan kaki. Selain itu, ruang terbuka ini juga berfungsi sebagai taman yang dihiasi dengan delapan pot bunga besar di tepinya.

Namun, seiring perkembangan zaman, ruang terbuka ini mulai dipenuhi oleh pemukiman. Pada tahun 2014, sebuah restoran Kapitan dibangun, yang menghalangi akses ke ruang terbuka dari arah sungai dengan tembok. Selain itu, taman juga dibangun yang mengubah wujud dari bangunan rumah Kapitan.

Kawasan ini memiliki 15 kelompok bangunan berbentuk rumah panggung, di mana tiga di antaranya adalah rumah perwira. Rumah Kapitan terdiri dari rumah utama dan rumah abu. Rumah utama seluas 4.000 meter persegi dan dipisahkan oleh ruang terbuka di tengahnya. Hingga saat ini, rumah utama ini masih ditinggali oleh keturunan Tjoa Hanhim. Sementara itu, rumah abu memiliki luas 1.700 meter persegi dan digunakan untuk mengumpulkan barang-barang keluarga marga Tjoa, seperti foto-foto dan tempat penyimpanan abu dari anggota keluarga yang sudah dikremasi.

Rumah Kapitan menampilkan gaya arsitektural yang mencerminkan pengaruh Palembang, Tionghoa, dan kolonial dalam bangunan-bangunannya.

Kampung Kapitan adalah saksi bisu sejarah dan budaya yang harus dilestarikan. Bangunan-bangunannya yang bersejarah dan nilai-nilai budaya yang terkandung dalam kawasan ini adalah bagian penting dari warisan Palembang dan Indonesia secara keseluruhan.

Share:

Burgo: Kuliner Tradisional Palembang yang Lezat dan Bersejarah

Selamat datang, para pembaca Inkarnasi Kata! Pada artikel kali ini, kami akan menyajikan informasi tentang kuliner tradisional yang berasal dari Kota Palembang. Kuliner yang akan kami bagikan kali ini adalah burgo. Yuk, kita simak mengenai kuliner ini.

Burgo, makanan khas Palembang. (sumber: www.fimela.com)

Burgo merupakan hidangan khas dari Kota Palembang yang telah diakui sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) oleh Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (KEMDIKBUD) pada tahun 2021 dengan nomor pendaftaran 202101401, berasal dari Provinsi Sumatera Selatan. Meskipun termasuk makanan kecil, bukan makanan utama, burgo sering ditemui di warung-warung khas Palembang. Biasanya, hidangan ini disajikan bersama dengan makanan lain seperti lakso, laksan, dan celimpungan. Agar burgo lebih nikmat, disarankan untuk dinikmati dalam keadaan hangat. Oleh karena itu, warung-warung biasanya menyajikan burgo dengan kompor untuk menjaga suhu panasnya.

Bahan utama dalam pembuatan burgo meliputi setengah kilogram beras, sagu, setengah kilogram ikan gabus, dan air. Proses pembuatan burgo juga melibatkan berbagai bumbu tambahan seperti lengkuas, ketumbar, biji kemiri, kencur, temu kunci, bawang merah, bawang putih, gula pasir, daun salam, dan sedikit kapur sirih.

Bahan Utama

Adonan encer untuk panekuk atau kue dadar terdiri dari campuran tepung beras, sagu, atau tapioka yang dicampur dengan air. Proses pembuatan panekuk mirip dengan cara membuat panekuk pada umumnya, yakni dengan menggorengnya di atas wajan datar, kemudian melipat dan menggulungnya.

Burgo, di sisi lain, disajikan dengan kuah berwarna putih yang terbuat dari campuran santan dan daging ikan. Ada berbagai jenis ikan yang dapat digunakan, tetapi ikan gabus sering menjadi pilihan utama. Untuk versi yang lebih ekonomis dan sederhana, udang kering ebi dapat digunakan sebagai alternatif.

Kuah santan ini diberi cita rasa dengan campuran bawang putih, ketumbar, lengkuas, garam, dan daun salam. Sebelum disajikan, panekuk lipat burgo diiris-iris, lalu disiram dengan kuah santan, dan dihiasi dengan bawang goreng. Untuk tambahan rasa pedas dan kesegaran asam, sambal dan perasan jeruk nipis dapat ditambahkan.

Demikianlah informasi singkat mengenai burgo, makanan khas dari Kota Palembang. Bagi yang ingin mencicipi burgo, Anda dapat mengunjungi para penjual di daerah Anda atau mencari berbagai resep burgo dan mencoba membuatnya sendiri. Sampai jumpa di artikel kuliner berikutnya!

Share:

Klenteng Dewi Kwan Im Palembang: Sejarah dan Tradisi yang Memikat

Klenteng Dewi Kwan Im. (sumber: bolong.id)

Perayaan Tahun Baru Imlek bagi masyarakat keturunan Tionghoa di Indonesia adalah momen istimewa yang penuh makna dan tradisi. Salah satu tempat terpenting untuk merayakan Imlek di Palembang adalah Klenteng Dewi Kwan Im, sebuah klenteng yang kaya sejarah dan budaya. Mari kita telusuri beberapa fakta menarik tentang Klenteng Dewi Kwan Im yang patut Anda ketahui:

1. Tidak Mengizinkan Sesaji Darah Babi

Saat perayaan Imlek, tradisi umumnya melibatkan penyajian sesaji kepada leluhur. Namun, Klenteng Dewi Kwan Im memiliki aturan yang berbeda. Klenteng ini tidak mengizinkan sesaji berupa darah babi dan anjing. Keputusan ini dipengaruhi oleh kisah sejarah keturunan Tionghoa yang memiliki hubungan dengan umat Muslim di daerah tersebut.

Kisah ini berkaitan dengan legenda putri Palembang, Siti Fatimah, yang merupakan seorang Muslim dan menikah dengan seorang Pangeran Tionghoa bernama Tan Bon An. Sebagai penghormatan terhadap leluhur yang Muslim, Klenteng Dewi Kwan Im tidak menyajikan makanan yang mengandung darah hewan yang diharamkan dalam Islam.

2. Terdapat 12 Meja Tempat Berdoa

Klenteng Dewi Kwan Im memiliki aroma khas dupa yang akan Anda cium begitu memasukinya. Dupa dianggap sebagai sarana untuk berkomunikasi dengan alam gaib atau Thien. Klenteng ini memiliki 12 meja yang digunakan sebagai tempat berdoa.

Setiap meja didedikasikan untuk dewa yang berbeda. Meja pertama dipersembahkan untuk Tuhan Yang Maha Esa, sementara meja-meja lainnya mewakili dewa-dewa lain dalam hierarki kepercayaan Tionghoa. Di dalam klenteng, etika dan tata krama yang ketat harus dijunjung, termasuk menghormati tingkatan dewa sesuai urutan hierarki.

3. Makam Panglima dalam Klenteng

Klenteng Dewi Kwan Im memiliki luas total 7.000 meter persegi dan dilengkapi dengan patung-patung naga yang megah di atas atap klenteng. Namun, salah satu hal yang menonjol di klenteng ini adalah makam seorang panglima keturunan Tionghoa yang beragama Islam, Ju Sin Kong atau lebih dikenal sebagai Apek Tulong.

Menurut mitos, orang yang mengunjungi makam ini dapat mendapatkan berkah dan perlindungan dari penyakit. Klenteng ini menerima umat dari berbagai agama dan kepercayaan, termasuk Buddha, Tao, dan Konghucu, untuk berdoa.

4. Dewi Kwan Im sebagai Penyembuh Penyakit

Selain dupa yang kental, klenteng ini memiliki altar-altar yang didedikasikan untuk berbagai dewa, termasuk Dewi Maco Po yang menguasai laut dan Dewi Kwan Im yang dianggap sebagai penolong orang yang menderita. Dewi Kwan Im dipercaya oleh masyarakat keturunan Tionghoa dapat membantu menyembuhkan penyakit.

Sebuah kisah dari masa lalu menceritakan seorang yang menderita kanker rahang berdoa kepada Dewi Kwan Im. Ia kemudian diminta untuk mengambil nomor obat dari petugas klenteng. Nomor ini akan ditukarkan dengan racikan obat di toko yang ditunjuk, dan diyakini bahwa penyakitnya akan sembuh.

Klenteng Dewi Kwan Im di Palembang adalah tempat yang memancarkan sejarah, budaya, dan spiritualitas. Dengan tradisi yang unik dan makna yang dalam, klenteng ini adalah bagian penting dari warisan budaya keturunan Tionghoa di Indonesia.

Share:

Jumlah Pengunjung

Populer