Resep dan Cerita di Balik Kue Cepak Kapung, Warisan Tradisional Masyarakat Batanghari, Jambi

Kue cepak kapung. (sumber: www.budaya-indonesa.org)

Kue cepak kapung adalah sebuah hidangan tradisional yang berasal dari masyarakat Batanghari, Jambi. Kue ini merupakan warisan berharga dari leluhur mereka. Bahan utama dalam pembuatan kue ini adalah tepung beras dan tepung terigu. Kue cepak kapung memiliki ciri khas berwarna hijau dengan bentuk bulat kecil yang memiliki rongga di tengahnya. Ketika dinikmati, teksturnya terasa kenyal di luar, namun yang membuatnya istimewa adalah cairan manis yang keluar dari dalamnya, memberikan cita rasa yang unik dan khas.

Bahan-Bahan

  • Tepung beras
  • Tepung terigu
  • Gula aren
  • Gula pasir
  • Santan
  • Telur
  • Pasta pandan

Cara Membuat

  • Tepung terigu dan tepung beras diadon dan diberi pewarna makanan pasta pandan hingga menyatu dengan merata dan adonan tampak kenyal.
  • Selanjutnya adonan tersebut di pilin-pilin dengan menggunakan jari tangan berbentuk bulat dan memeiliki rongga ditengahnya.
  • Setelah itu, kue yang telah dipilin dikukus, pengukusan kue tersebut dilakukan dalam dua tahap. Tahap pertama, kue dikukus dalam waktu lebih kurang 20 menit.
  • Setelah kue dikukus, rongga yang terdapat di kue tersebut dimasukkan cairan dari santan, gula aren dan gula pasir yang sebelumnya telah dimasak. Setelah dimasukkan cairan tersebut kue kembali dikukus selama kurang lebih 15 menit.

Share:

Pasar 16 Ilir Kota Palembang: Jejak Sejarah Perekonomian dan Perdagangan

Pasar 16 Ilir Palembang dari sungai musi. (sumber: hallo.palembang.go.id)

Pasar 16 Ilir Kota Palembang adalah salah satu pasar tradisional terbesar di kota ini, yang memiliki sejarah panjang yang berawal sejak tahun 1821. Terletak di Jalan Pasar 16 Ilir, dekat Sungai Musi, pasar ini telah menjadi pusat perdagangan yang vital bagi warga Sumatera Selatan. Artikel ini akan mengungkapkan sejarah, perkembangan, dan peran penting Pasar 16 Ilir dalam sejarah ekonomi dan perdagangan Palembang.

Sejarah Panjang Pasar 16 Ilir

Keberadaan Pasar 16 Ilir di Palembang dimulai sejak tahun 1821, ketika Belanda berhasil menaklukkan Kesultanan Palembang Darussalam. Saat itu, mereka mulai mengenali potensi ekonomi yang ada di kawasan ini. Geliat ekonomi di sekitar Pasar 16 Ilir sebenarnya sudah dimulai jauh sebelumnya, ketika Kimas Hindi Pangeran Ario Kesumo Abdulrohim memindahkan pusat kekuasaan dari 1 Ilir yang sebelumnya habis dibakar oleh VOC pada tahun 1659 ke Kuto Cerancang.

Pada awal abad ke-20, pola dagang di Pasar 16 Ilir umumnya dilakukan dengan cara "cungkukan," di mana pedagang akan menghamparkan barang dagangannya di tanah. Namun, seiring berjalannya waktu, pasar ini berkembang dengan adanya pembangunan petak permanen yang diperuntukkan bagi para pedagang.

Salah satu wilayah yang berkembang di sekitar Pasar 16 Ilir adalah Pasar Baru, yang hingga saat ini masih dikenal sebagai Jl Pasar Baru. Pada awal abad ke-20, sudah terlihat bangunan bertingkat dua di kawasan ini, yang digunakan sebagai tempat berjualan.

Perkembangan Perekonomian di Pasar 16 Ilir dan Sekitarnya

Pasar 16 Ilir menjadi pusat ekonomi yang semakin berkembang. Pada tahun 1912-1915, penduduk Keresidenan Palembang (yang mencakup seluruh daerah di Sumatera Selatan) sudah mulai memiliki mobil pribadi secara signifikan. Peningkatan kemakmuran ini semakin terlihat pada tahun 1920, ketika jumlah mobil pribadi mencapai lebih dari 3.000 unit.

Masyarakat Palembang juga semakin terlibat dalam perdagangan internasional, seperti yang terlihat dari sejarah pemindahan pelabuhan di kota ini selama masa penjajahan Belanda. Pelabuhan yang dikenal sebagai Boom Jeti dibangun di depan Benteng Kuto Besak (yang saat ini menjadi Perbekalan dan Angkutan Kodam II Sriwijaya). Sebelumnya, pelabuhan sudah ada di kawasan 35 Ilir. Pada tahun 1914, pelabuhan tersebut dipindahkan ke muara Sungai Rendang, yang sekarang dikenal sebagai Gudang Garam.

Pasar 16 Ilir Kota Palembang telah menjadi saksi perjalanan panjang ekonomi dan perdagangan di kota ini. Dengan sejarah yang berawal dari tahun 1821, pasar ini tetap menjadi pusat aktivitas ekonomi yang penting bagi masyarakat Palembang hingga saat ini.

Share:

Monumen Perjuangan Rakyat (Monpera): Mengenang Heroisme Palembang di Masa Perang

Monumen Perjuangan Rakyat. (sumber: sumselkita.com)

Masih seputar kawasan Benteng Kuto Besak Palembang, kali ini kita akan membahas salah satu monumen yang sering menjadi destinasi wisata dan destinasi edukasi seputar perjuangan kemerdekaan, yaitu Monumen Amanat Penderitaan Rakyat (Monpera). Monumen ini terletak di persimpangan antara Jl. Sudirman dan Jl. Merdeka, berdekatan dengan Kantor Pos Besar Jl. Merdeka, serta berada di belakang Museum Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang. Mari kita bahas sejarah dan koleksi yang ada di dalamnya.

Sejarah Pembangunan

Sejarah pembangunan Museum Monpera berawal dari inisiatif untuk mendirikan sebuah monumen peringatan perjuangan kemerdekaan di Palembang. Ide ini pertama kali muncul dari para sesepuh pejuang kemerdekaan Republik Indonesia di wilayah Sumatera Selatan yang tergabung dalam Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI). Pada tanggal 2 Agustus 1970, inisiatif ini disampaikan dalam rapat LVRI. Setelah melalui berbagai tahapan, pada tanggal 17 Agustus 1975, diadakan upacara peletakan batu pertama untuk memulai pembangunan monumen ini.

Proses pembangunan Museum Monpera kemudian dimulai pada tahun 1980 dan berlangsung hingga 1988 secara bertahap, dengan menggunakan dana dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Pemerintah Tingkat I Sumatera Selatan. Puncaknya, pada tanggal 23 Februari 1988, Museum Monpera diresmikan oleh Menko Kesra H. Alamsyah Ratu Prawiranegara.

Museum Monpera memiliki tujuan utama untuk memperingati serangan Agresi Militer Belanda II. Saat itu, Belanda mengepung Kota Palembang dengan mengerahkan tank dan artileri, menembaki pejuang nasionalis, serta menjatuhkan bom dan granat selama lima hari lima malam. Fungsi dari Museum Monpera tertuang jelas di dinding monumen, tepat di bawah patung Garuda. Dalam tulisan tersebut disebutkan bahwa museum ini memiliki peran dalam menggali kembali kesadaran sejarah perjuangan dalam mencapai kemerdekaan nasional, mengingatkan tentang aktivitas perjuangan sebagai hikmah, serta menghormati jasa-jasa para pahlawan bangsa agar menjadi contoh bagi generasi penerus dalam mewujudkan cita-cita bangsa dan membangun negara.

Arsitektur Bangunan

Museum Monumen Perjuangan Rakyat (Monpera) memiliki luas tanah sekitar 23.565 m², dengan luas bangunan mencapai 3.926,4 m². Di luar dinding monumen, terdapat patung Garuda berukuran besar, yang di bawahnya terdapat tulisan yang menjelaskan fungsi dan makna dari arsitektur ini. Di depan monumen, terdapat lapangan luas yang menampilkan dua mobil tank serta patung Gading Gajah yang dicat putih. Patung ini juga dilengkapi dengan nisan peresmian Museum Monumen Perjuangan Rakyat.

Selain itu, beberapa ikon dan arsitektur dalam museum ini dirancang dengan maksud filosofis yang mendalam. Monumen ini berbentuk melati dengan kelopak lima, di mana melati melambangkan kesucian dan ketulusan para pahlawan perjuangan, sementara lima sisi melambangkan lima daerah keresidenan yang tergabung dalam Sub Komandemen Sumatera Selatan (SubKOSS), yaitu Keresidenan Palembang, Lampung, Jambi, Bengkulu, dan Kepulauan Bangka-Belitung. Monumen ini memiliki tinggi sekitar 17 meter, sesuai dengan tanggal kemerdekaan Indonesia, dengan delapan lantai yang melambangkan bulan Agustus, dan bidang sebanyak 45, menandakan tahun kemerdekaan pada tahun 1945.

Akses ke museum ini dirancang dengan sembilan jalur, yang memiliki makna "Batang Hari Sembilan" yang mewakili kebersamaan masyarakat Palembang. Gerbang utama museum memiliki enam cagak, yang melambangkan enam wilayah perjuangan kemerdekaan di Sumatera Selatan. Patung Gading Gajah yang terletak setelah gerbang utama merefleksikan perjuangan pejuang Sumatera Selatan dalam mempertahankan kemerdekaan dengan meninggalkan jejak yang berharga.

Selain itu, museum ini juga menampilkan dua relief yang menggambarkan kehidupan di Sumatera Selatan sebelum kemerdekaan dan selama pertempuran berlangsung. Beberapa sarana yang disediakan dalam museum ini mencakup ruang pamer tetap, ruang auditorium, ruang perpustakaan, ruang laboratorium/konservasi, ruang penyimpanan koleksi, ruang bengkel, ruang administrasi, dan ruang audio visual.

Koleksi



Di dalam Museum Monpera, pengunjung dapat menjelajahi berbagai koleksi sejarah yang berkaitan dengan peristiwa perjuangan masyarakat Palembang dalam menghadapi Agresi Militer Belanda II. Museum ini mengoleksi sebanyak 368 artefak yang mencakup beragam benda bersejarah. Koleksi ini terdiri dari 178 foto dokumentasi bersejarah, pakaian dinas pahlawan, dan senjata yang digunakan seperti pistol, juki kanju, fiat, teki, danto, meriam sunan meriam kecepek, dten MK IV, double lop, pedang sabil, ranjau darat. Selain itu, museum ini juga menyimpan 568 buku koleksi, termasuk buku-buku perjuangan dan buku umum.

Museum Monpera juga memiliki patung yang menggambarkan tubuh para pahlawan seperti Dr. A. K. Gani, Drg. M. Isa, H. Abdul Rozak, Bambang Utoyo, Hasan Kasim, Harun Sohar, dan H. Barlian. Selain itu, koleksi mata uang di museum ini mencakup mata uang VOC, Hindia-Belanda, dan Jepang (ORI). Semua koleksi ini memberikan wawasan mendalam tentang perjuangan dan sejarah penting yang melibatkan masyarakat Palembang selama Agresi Militer Belanda II.











Monumen Perjuangan Rakyat, yang dikenal dengan sebutan Monpera, merupakan sebuah simbol heroisme dan perjuangan masyarakat Palembang dalam menghadapi Agresi Militer Belanda II. Monumen ini terletak di Jalan Merdeka, persis di seberang Masjid Agung Palembang, Sumatera Selatan. Artikel ini akan mengungkap sejarah, makna, dan koleksi yang ada di Museum Monpera.

Makna dan Bentuk Monpera

Monpera memiliki bentuk yang mencolok dan unik. Salah satu ciri khasnya adalah patung burung Garuda yang besar terdapat di dinding monumen. Di bawahnya, terdapat tulisan yang menjelaskan fungsi dan makna dari arsitektur Monpera ini. Monumen ini bukan hanya sekadar struktur fisik, tetapi juga sebuah cerminan makna yang mendalam bagi masyarakat Palembang.

Mengenang Agresi Militer Belanda II

Museum Monpera didirikan untuk memperingati serangan Agresi Militer Belanda II. Pada saat itu, Belanda mengepung Kota Palembang dengan menggunakan tank dan artileri berat. Mereka juga menembaki pejuang nasionalis dan menjatuhkan bom serta granat di Kota Palembang. Pertempuran ini berlangsung selama lima hari dan lima malam, dari tanggal 1 hingga 5 Januari 1947.

Meskipun hanya dilengkapi dengan peralatan dan senjata sederhana, masyarakat Palembang yang gigih dalam berjuang berhasil membuat tentara Belanda kebingungan. Akhirnya, pada 6 Januari 1947, tercapailah kesepakatan gencatan senjata. Monumen ini menjadi saksi bisu dari peristiwa dramatis perang lima hari lima malam di Palembang.

Pembangunan Monpera

Ide untuk membangun Monumen Perjuangan Rakyat diusulkan oleh sesepuh pejuang kemerdekaan Republik Indonesia yang tergabung dalam Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI) wilayah Sumsel. Inisiatif ini disampaikan dalam rapat LVRI pada tanggal 2 Agustus 1970, dan pada tanggal 17 Agustus 1975, upacara peletakan batu pertama monumen diadakan.

Pembangunan museum Monpera dimulai pada tahun 1980 dan berlangsung hingga tahun 1988 secara bertahap dengan menggunakan dana dari APBD Pemerintah Tingkat I Sumatera Selatan. Pada tanggal 23 Februari 1988, Museum Monpera diresmikan oleh Menko Kesra H. Alamsyah Ratu Prawiranegara.

Koleksi dan Kenangan di Museum Monpera

Museum Monpera adalah tempat yang berisi berbagai macam koleksi sejarah yang terkait dengan peristiwa perjuangan masyarakat Palembang dalam menghadapi Agresi Militer Belanda II. Koleksinya mencakup 178 foto dokumentasi, pakaian dinas pahlawan, senjata seperti pistol, juki kanju, fiat, teki, danto, meriam sunan, meriam kecepek, dten MK IV, double lop, pedang sabil, dan anjau darat.

Selain itu, museum ini juga memiliki 568 buku, termasuk buku perjuangan dan buku umum. Patung setengah badan dari para pahlawan seperti Dr. A. K. Gani, Drg. M. Isa, H. Abdul Rozak, Bambang Utoyo, Hasan Kasim, Harun Sohar, dan H. Barlian juga dipajang di sini. Mata uang VOC, Hindia-Belanda, dan Jepang (ORI) juga menjadi bagian dari koleksi Museum Monpera.

Museum Monpera adalah saksi hidup dari keteguhan dan semangat perjuangan masyarakat Palembang dalam menjaga kemerdekaan dan nasionalisme mereka. Monumen Perjuangan Rakyat ini menjadi tempat yang layak untuk mengenang sejarah pahit namun penting dalam perjalanan menuju kemerdekaan Indonesia.

Share:

Gelamai Perentak: Makanan Manis Khas Jambi yang Wangi dan Tradisional

Gelamai perentak. (sumber: www.malmalredholic.blogspot.com)

Gelamai perentak adalah makanan manis khas Jambi yang berasal dari Kabupaten Merangin. Bahan utamanya terdiri dari beras ketan, kelapa, dan gula pasir. Hidangan ini memiliki bentuk mirip dengan dodol, tetapi teksturnya lebih kenyal dan memiliki aroma khas. Gelamai dibungkus dengan anyaman umbai dalam bentuk agak kotak. Keunikan cita rasa gelamai berasal dari proses pembuatannya yang masih mengikuti tradisi. Proses pembuatan gelamai menggunakan kuali besi dan bahan bakar dari kayu karet, yang memberikan aroma khas yang harum pada makanan ini.

Satu hal yang perlu ditekankan adalah gelamai perentak dibuat tanpa bahan pengawet, sehingga aman untuk dikonsumsi. Makanan ini telah menjadi ikon di wilayah Kabupaten Merangin, terutama di Provinsi Jambi secara umum. Kelezatan gelamai bahkan sudah terkenal hingga di luar daerah Jambi, menjadi salah satu oleh-oleh yang populer.

Share:

Museum Sultan Mahmud Badaruddin II: Mengulik Sejarah di Kota Palembang

Museum Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang. (sumber: Wikipedia)

Pada edisi kali ini, kita akan bergeser sedikit ke sebelah timur dari Benteng Kuto Besak, tepatnya ke Museum Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang. Museum ini, selain difungsikan sebagai museum, juga menjadi kantor dinas kebudayaan Kota Palembang. Area bangunan ini dulunya merupakan bekas keraton Kuta Lama dan sempat difungsikan sebagai kantor residen kolonial. Bagaimana sejarahnya secara lebih lengkap, mari kita ulas.

Sejarah

Lokasi museum ini awalnya adalah lokasi Kuta Lama, istana tua Sultan Mahmud Badaruddin I (1724–1758), penguasa Kesultanan Palembang. Setelah penghapusan Kesultanan Palembang, istana Kuta Lama dihancurkan oleh pemerintah kolonial Inggris pada 7 Oktober 1823. Penghapusan Kesultanan adalah bentuk hukuman yang dijatuhkan oleh pemerintah kolonial Inggris terhadap Kesultanan Palembang akibat pembantaian yang terjadi di penginapan Belanda Sungai Alur, meskipun ini mungkin telah menjadi gerakan politik untuk menghapus kedaulatan Kesultanan atas kota tersebut.

Museum Sultan Mahmud Badaruddin II ketika masih berfungsi sebagai kantor residen kolonial. (sumber: sumseltour.blogspot.co.id)

Segera setelah pembongkaran Kuta Lama, pada tahun 1823, sebuah gedung baru dibangun di atas reruntuhannya. Bangunan pertama selesai pada tahun 1824 dan diberi nama Gedung Siput. Belakangan sebuah bangunan kembali dibangun dalam gedung yang saat ini berdiri di situs tersebut. Bangunan baru adalah bangunan batu dua lantai yang dibangun dengan gaya yang memadukan gaya Eropa dengan arsitektur tropis Hindia, berfokus pada gaya rumah bari tradisional yang ditemukan di Palembang. Pada tahun 1825, gedung itu digunakan sebagai kantor untuk residen kolonial. Pada tahun 1920-an bangunan tersebut direnovasi dengan penambahan lebih banyak kaca.

Selama Perang Dunia II, bangunan tersebut digunakan sebagai markas militer Jepang. Setelah kemerdekaan Indonesia, gedung tersebut menjadi markas besar Tentara Nasional Indonesia bernama Kodam II/Sriwijaya untuk waktu yang singkat. Kemudian diserahkan kepada pemerintah kota Palembang sebelum akhirnya diubah menjadi museum pada tahun 1984. Pengambilan benda-benda untuk Museum Sultan Mahmud Badaruddin II dimulai pada tahun 1984 ketika rumah bari, sebuah rumah limas yang otentik, diangkut ke lokasi baru di Museum Balaputradeva. Beberapa koleksi yang sebelumnya disimpan di rumah bari dipindahkan ke Museum Sultan Mahmud Badaruddin II.

Foto bangunan Museum Sultan Mahmud Badaruddin II tempo dulu. (sumber: Kemas Ibrani)

Museum ini buka setiap hari, tapi khusus Senin hanya buka setengah hari. Tiket masuknya dikenakan harga Rp1.000 untuk anak-anak dan pelajar, Rp2.000 untuk mahasiswa, Rp5.000 untuk umum, dan Rp20.000 untuk turis mancanegara.

Koleksi Museum

Sebagaimana museum pada umumnya, museum ini memamerkan berbagai macam benda antik peninggalan Kesultanan Palembang, diantaranya adalah:

Prasasti Talang Tuo

Ketika Anda berkunjung ke museum ini, Anda akan menemukan Prasasti Talang Tuo yang merupakan prasasti dari Kesultanan Palembang. Namun, prasasti yang tersedia di sana merupakan replika yang dibuat semirip mungkin dengan prasasti aslinya.

Berbagai Macam Koleksi Tekstil

Berikutnya, dalam museum ini Anda akan menemukan berbagai koleksi tekstil dari Kesultanan Palembang, termasuk kain tekstil kerajinan tangan dan pakaian tradisional khas dari daerah Palembang dan Kesultanan Palembang yang dipamerkan.

Berbagai Macam Peninggalan Kesultanan Palembang

Di Museum Sultan Mahmud Badaruddin II, Anda akan menemukan berbagai jenis koleksi peninggalan Kesultanan Palembang, seperti kerajinan besi dan logam, koin dari Sumatera Selatan, serta berbagai senjata milik kesultanan.

Artefak Kerajaan Sriwijaya

Tidak hanya di dalam ruangan, Anda juga dapat menemukan beragam artefak dari kerajaan yang dulunya pernah berkuasa di Palembang, yakni Sriwijaya, di bagian kebun museum. Di sana, terdapat patung Budha dan Ganesha yang terawat dengan baik.

Itulah tadi ulasan singkat dari Museum Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang. Selain menjadi bangunan cagar budaya dan menjadi salah satu saksi bisu perjalanan kota Palembang hingga saat ini, museum ini juga bisa menjadi sarana wisata edukasi untuk menambah wawasan pengetahuan seputar Kesultanan Palembang. Selain itu, kunjungan ke museum ini juga dapat meningkatkan kecintaan kita terhadap kota tercinta. Jika Anda sedang berada di kawasan Benteng Kuto Besak, jangan lupa untuk mampir ke museum ini. Sampai jumpa di artikel berikutnya.

Share:

Jumlah Pengunjung

Populer