Tape Uli: Kuliner Tradisional Manis dari DKI Jakarta

Halo para pembaca Inkarnasi Kata, dalam artikel ini kami akan menghadirkan informasi tentang kuliner tradisional yang berasal dari DKI Jakarta. Kuliner yang akan kami bahas kali ini adalah tape uli. Mari kita simak lebih lanjut mengenai hidangan yang satu ini.

Tape uli, makanan khas DKI Jakarta. (sumber: www.endeus.tv)

Kuliner Betawi memiliki reputasi yang kaya akan keragaman dan sejarah panjangnya. Ini dikarenakan oleh proses akulturasi budaya antara suku Betawi dengan berbagai etnis dari Indonesia, Asia, dan Eropa, yang berkontribusi dalam pembentukan berbagai hidangan khas Betawi, termasuk tape uli atau yang biasa dikenal sebagai tape uli oleh orang Betawi.

Tape uli adalah salah satu makanan tradisional asli Betawi yang telah memiliki sejarah panjang. Hidangan ini, yang terbuat dari fermentasi singkong, sudah dikenal sejak tahun 1957 silam, bahkan mungkin lebih lama. Salah satu variasinya dikenal dengan nama tape uli Cisalak.

Hingga saat ini, tape uli masih sering dihidangkan dalam berbagai acara besar yang melambangkan kebersamaan, seperti perayaan Idulfitri, Iduladha, dan Maulid. Makanan manis ini juga sering dianggap setara dengan berbagai jenis kudapan manis lainnya, seperti madu mongso, tape ketan, dan lain sebagainya.

Sisi Romantis

Penyajian tape uli tidak hanya tentang hasil akhirnya, melainkan juga mencakup unsur kebersamaan dan romantisme dalam proses pembuatannya. Aspek ini terlihat dari tahapan pembuatan tape uli yang melibatkan peran perempuan dan laki-laki.

Sebagaimana yang diungkapkan oleh Alim Molana, seorang tokoh masyarakat di Warung Buncit, Jakarta Selatan, dalam proses pembuatan tape uli, tugas kaum pria adalah untuk menumbuk ketan, sementara perempuan memiliki peran penting dalam proses memasak tape uli. 

Proses pembuatan yang sangat romantis ini, demikian yang ditegaskan oleh Alim, telah ada sejak masa kejayaan Majapahit. Tingginya kandungan gluten dalam ketan menjadikan tape uli memiliki sifat lengket, yang pada gilirannya mencerminkan kedekatan antara para pembuat dan para konsumennya dalam berbagai perayaan besar.

Membuat tape uli memerlukan sentuhan lembut, dan aspek kebersihan baik pada bahan maupun tempat penyimpanannya menjadi sangat penting. Menurut Alim, ini termasuk dalam aturan-aturan khusus dalam proses pembuatan tape uli, dan jika diabaikan, dapat mengakibatkan kegagalan total ketika hidangan ini disajikan.

Proses Pembuatan

Bahan utama dari tape uli adalah tape ketan, ragi tape, kelapa parut segar, beras ketan putih, dan garam. Seperti yang disebutkan oleh Alim, pembuatan tape uli adalah sebuah proses yang tidak mudah. Diperlukan tingkat ketelatenan dan kesabaran yang tinggi, terutama dalam proses mengukus ketan.

Pertama-tama, langkah awal adalah merendam beras ketan yang sudah dibersihkan selama 2 hingga 6 jam. Setelah direndam, beras ketan ditiriskan dan kemudian dikukus sampai matang. Setelah itu, ketan yang sudah matang langsung dipindahkan ke dalam sebuah wadah dan ditabur dengan kelapa parut segar dan garam. Lalu, aduk-aduk hingga merata.

Tak lupa, persiapkan juga ragi dan tumbuk hingga halus. Tingkat kelembutan dari tape uli bisa diatur dengan cara mengatur tingkat kehalusan ragi yang digunakan dalam proses ini.

Selanjutnya, ragi yang sudah dihaluskan ditaburkan pada ketan yang sudah dingin. Ketan kemudian dimasukkan secara perlahan ke dalam wadah sambil ditaburi ragi. Proses pembuatan ketan diakhiri dengan membungkus tape uli.

Jika Anda ingin menciptakan tape uli dengan rasa yang begitu lezat dan memikat lidah, ada baiknya mencoba menggunakan jenis ketan yang berbeda untuk tape dan uli. Untuk tape, gunakan ketan solos, sementara untuk uli, ketan paris adalah pilihannya yang tepat.

Selain itu, perhatikan juga perpaduan rasa asam, manis, dan gurih. Pastikan bahwa takaran ketiga elemen ini seimbang dan sesuai satu sama lain. Kecil atau besarnya perbedaan takaran dapat berakibat pada kegagalan rasa tape uli yang dihasilkan.

Demikianlah ringkasan tentang tape uli, salah satu kuliner yang berasal dari DKI Jakarta. Jika Anda ingin mencoba tape uli, Anda dapat mengunjungi penjual tape uli di daerah Anda, atau jika tidak tersedia, Anda bisa mencari berbagai resep tape uli dan mencoba membuatnya sendiri. Sampai jumpa di artikel kuliner selanjutnya.

Share:

Memaknai Tonggak Sejarah: 61 Tahun Perjalanan TVRI dalam Layar Kaca Indonesia

Logo TVRI saat ini. (sumber: wikipedia.com)

Televisi Republik Indonesia (TVRI) merupakan jaringan televisi publik nasional di Indonesia yang memiliki status sebagai Lembaga Penyiaran Publik bersama dengan Radio Republik Indonesia (RRI). Pendiriannya telah diatur dalam Undang-Undang No. 32/2002 tentang Penyiaran. Sebagai jaringan televisi pertama di Indonesia, TVRI pertama kali mengudara pada tanggal 24 Agustus 1962. Dalam sejarahnya, TVRI sempat menjadi satu-satunya penyedia siaran televisi di Indonesia hingga tahun 1989, ketika televisi swasta pertama, RCTI, didirikan.

TVRI saat ini memiliki cakupan siaran yang meliputi seluruh wilayah Indonesia, dengan tiga saluran televisi nasional dan 32 stasiun televisi daerah, serta didukung oleh 361 stasiun transmisi (termasuk 129 stasiun transmisi digital) di setiap provinsi di Indonesia. Selain siaran konvensional, TVRI juga dapat diakses melalui layanan streaming di situs resmi, aplikasi TVRI Klik, dan berbagai platform layanan Over-The-Top (OTT).

Dalam laporan dari Reuters Institute for the Study of Journalism dan Universitas Oxford pada tahun 2021, TVRI terbukti sebagai salah satu media yang paling dipercaya oleh masyarakat, dengan tingkat kepercayaan mencapai 66%. Ini menggarisbawahi peran penting TVRI sebagai penyedia informasi yang diandalkan dan berpengaruh dalam masyarakat Indonesia.

Sejarah

1961-1962: Ide, gagasan, dan siaran percobaan

Tokoh yang tak dapat dilepaskan dari sejarah TVRI adalah Maladi, seorang mantan penyiar RRI yang memiliki peran signifikan dalam mewujudkan gagasan berdirinya stasiun televisi di Indonesia. Pada tahun 1955, Maladi pertama kali mengusulkan konsep ini, dengan tujuan mendukung sosialisasi pemerintah dalam pemilihan umum pertama yang akan datang. Meskipun Presiden Soekarno (saat itu sistem parlementer) tertarik dengan ide tersebut, kabinet saat itu menolaknya karena dianggap terlalu mahal. Setelah menjadi Menteri Penerangan pada tahun 1959, Maladi kembali memajukan gagasan tersebut kepada Presiden Soekarno, yang saat itu memegang kekuasaan dalam era Demokrasi Terpimpin. Maladi percaya bahwa televisi dapat mengembangkan persatuan nasional melalui penyiaran olahraga yang dapat merajut kesatuan, terutama karena Indonesia dipilih sebagai tuan rumah Asian Games keempat pada tahun 1962. Gagasan ini mulai diterima oleh berbagai pihak, termasuk Presiden, dan pada tahun 1960, Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara (MPRS) mengeluarkan keputusan yang mendorong pendirian stasiun televisi.

Pada tahun 1961, proyek televisi mulai terwujud sebagai bagian dari pembangunan Asian Games IV, di bawah Komando Urusan Proyek Asian Games IV (KUPAG). Menteri Penerangan kemudian membentuk Panitia Persiapan Televisi (P2TV) yang dipimpin oleh R.M. Soetarto untuk mempersiapkan siaran televisi. R.M. Soetarto dikirim ke Amerika Serikat untuk mempelajari lebih lanjut tentang pertelevisian. Proyek ini terus berkembang, dan pada tanggal 23 Oktober 1961, Presiden Soekarno mengirimkan instruksi kepada Maladi untuk mempersiapkan proyek televisi, termasuk pembangunan studio di bekas Akademi Penerangan (AKPEN) di Senayan dan pembuatan pemancar. TVRI akhirnya memulai siaran percobaan pada tanggal 17 Agustus 1962, dan kompleks siarannya diresmikan pada tanggal 23 Agustus 1962. Maladi telah meninggalkan jejak berharga dalam perjalanan panjang TVRI menjadi lembaga penyiaran publik yang penting di Indonesia.

1962-1975: Siaran awal, status yayasan

Pada 24 Agustus 1962, TVRI resmi mengudara dengan siaran langsung upacara pembukaan Asian Games IV dari Stadion Utama Gelora Bung Karno. Dengan berdirinya TVRI, Indonesia bergabung dalam daftar negara Asia yang memiliki stasiun televisi, meskipun saat itu jumlah televisi di Indonesia masih terbatas, hanya sekitar 10.000-15.000 unit, dan hanya sekitar 2% penduduk yang dapat menikmati siaran TVRI. TVRI pun terlibat dalam struktur Organizing Committee Asian Games 1962 sebagai "Seksi Biro Radio dan Televisi Organizing Committee Asian Games IV", mengingat hubungannya yang erat dengan penyelenggaraan Asian Games. Setelah pembubaran komite tersebut, TVRI berada di bawah Yayasan Bung Karno melalui Keputusan Presiden No. 318/1962.

Kendati demikian, status dan kepemimpinan TVRI sempat menjadi bahan perdebatan di antara Menteri Pekerjaan Umum dan Menteri Penerangan, sementara masalah pengelolaan keuangan juga muncul. Penyelesaian akhirnya datang dengan Keputusan Presiden No. 215/1963 yang membentuk Yayasan TVRI dengan Pimpinan Umum Presiden RI. Status yayasan ini berlangsung hingga 1975. Meskipun demikian, TVRI pada periode ini memiliki karakteristik yang tidak sepenuhnya independen, karena mengikuti arahan pemerintah dalam program-programnya.

Selama Orde Baru, TVRI menjadi alat penyebarluasan program pemerintah dan pembangunan nasional, dan meskipun ada usulan untuk lebih mengarahkan TVRI pada hiburan, hal ini tidak terlaksana. Jumlah karyawan TVRI pada tahun 1963 adalah sekitar 100 orang, dan Divisi Pemberitaan didirikan dengan hanya 5 staf pada pertengahan tahun yang sama. Selain tenaga dalam negeri, 23 orang dari Jepang juga terlibat dalam pengembangan TVRI.

Pendanaan TVRI berasal dari anggaran negara, iklan, iuran televisi, dan sponsor. Dalam rangka memperluas jangkauan siaran, dibangunlah Stasiun Penyiaran Daerah di berbagai kota, meskipun pada akhirnya stasiun-stasiun ini diintegrasikan lebih terpusat dalam pemrograman setelah berbagai proses penggabungan dengan Stasiun Pusat Jakarta.

1975-1998: Perubahan status, pelebaran sayap dan penurunan

Pada tahun 1975, melalui Surat Keputusan Menteri Penerangan No. 55B/Kep/Menpen/1975 (kemudian diubah oleh SK Menpen No. 230A/Kep/Menpen/1984), TVRI mengalami perubahan status menjadi bagian dari organisasi dan struktur Departemen Penerangan RI dengan status direktorat. Status ini mencerminkan dualitas TVRI sebagai Yayasan Televisi RI dan juga Direktorat Televisi di bawah Direktorat Jenderal Radio, Televisi, dan Film (Dirjen RTF). Meskipun demikian, hal ini menyebabkan manajemen TVRI mengadopsi manajemen birokrasi yang kurang efisien.

Pada tahun 1981, Presiden Soeharto mengambil keputusan untuk menghapus iklan di TVRI, yang mulai berlaku pada 1 April 1981. Keputusan ini memiliki tujuan untuk memusatkan siaran televisi guna mendukung program pembangunan pemerintah dan mencegah dampak negatif akibat perilaku konsumtif. Meskipun kontroversial, larangan iklan ini berdampak pada pendapatan TVRI, namun pemerintah mengkompensasinya dengan memperkenalkan "iklan terselubung" berupa acara yang disponsori.

Pada tahun 1983, TVRI meluncurkan Programa 2 TVRI (sekarang TVRI Jakarta) dengan acara berita dalam bahasa Inggris. Saluran ini mulai diperluas untuk menyesuaikan selera penduduk ibukota. TVRI terus berusaha memperluas jangkauan siaran dan mengembangkan stasiun-stasiun produksi keliling (SPK) di berbagai kota.

Selama periode tersebut, TVRI memainkan peran sebagai alat komunikasi pemerintah, mengkomunikasikan kebijakan dan program pemerintah kepada rakyat serta mendukung konsep pembangunan nasional Orde Baru. Namun, perubahan politik dan sosial di akhir 1990-an, termasuk berdirinya televisi swasta pertama, mengubah dinamika televisi di Indonesia dan meruntuhkan monopoli TVRI. Meskipun demikian, TVRI tetap berusaha mempertahankan perannya dalam dunia penyiaran nasional.

1998-2006: Restrukturisasi

Setelah jatuhnya rezim Orde Baru, TVRI mengalami peluang dan tantangan signifikan. Di satu sisi, TVRI memiliki kesempatan untuk mengubah dirinya dari agen propaganda pemerintah menjadi penyiaran publik yang lebih mandiri. Namun, di sisi lain, perubahan ini juga membawa ketidakpastian yang berlangsung selama hampir 7 tahun. Masalah keuangan semakin diperparah oleh dampak krisis moneter. Penghapusan Departemen Penerangan pada tahun 1999 oleh Presiden Abdurrahman Wahid juga memicu ketidakpastian mengenai status TVRI karena sebelumnya TVRI berada di bawah departemen tersebut.

Perubahan tersebut menyebabkan TVRI beralih menjadi Perusahaan Jawatan (Perjan) pada tahun 1999 sebagai langkah transisi, namun tetap menghadapi tantangan dalam mengatur keuangan dan aset-asetnya. Pada tahun 2002, melalui Peraturan Pemerintah No. 9/2002, TVRI resmi menjadi PT TVRI (Persero), dengan tujuan untuk memperbaiki manajemen, struktur organisasi, sumber daya manusia, dan keuangan. Meskipun kembali diizinkan menayangkan iklan, TVRI masih menghadapi kesulitan finansial karena acara-acaranya kurang menarik pengiklan.

Selama transisi ini, TVRI juga mengalami konflik internal dan perubahan kepemimpinan yang mempengaruhi kondisinya. Namun, pada tanggal 15 April 2003, TVRI resmi menjadi PT Persero dan mulai berusaha memperbaiki masalah-masalahnya. Selain itu, TVRI juga meningkatkan siarannya dengan menggunakan kanal UHF dan mengoperasikan kembali seluruh pemancar stasiun transmisinya.

Undang-Undang No. 32/2002 tentang Penyiaran menetapkan TVRI sebagai Lembaga Penyiaran Publik yang terpisah dari kementerian mana pun. TVRI diberi masa transisi selama 3 tahun untuk belajar mandiri dalam menggali dana dan meningkatkan profesionalisme. Pada 24 Agustus 2006, TVRI secara resmi menyandang status sebagai Lembaga Penyiaran Publik sesuai dengan Peraturan Pemerintah No. 13/2005, mengakhiri polemik tentang statusnya sejak 1999.

2006-kini: Modernisasi dan penyempurnaan siaran

Pada tahun 2010, TVRI memulai siaran digital dengan peluncuran cakupan awal di Jakarta, Surabaya, dan Batam. Selain itu, TVRI juga meluncurkan dua saluran terestrial digital pertama di Indonesia: TVRI 3 (kini TVRI World) dan TVRI 4 (kini TVRI Sport). Namun, TVRI masih mengalami tantangan dan kontroversi dalam periode ini. Berganti-ganti kepemimpinan dan masalah internal seperti konflik, tuduhan korupsi, dan kontroversi penayangan acara partai politik menjadi faktor yang mempengaruhi citra TVRI.

Pada tahun 2017, Helmy Yahya diangkat menjadi Direktur Utama TVRI, dan dengan bantuannya, TVRI melakukan perombakan besar-besaran terhadap acara dan siaran. Upaya ini dilakukan untuk mendapatkan perhatian pemirsa muda dan menciptakan citra modern. Helmy Yahya dan timnya mengusahakan perubahan yang mencolok, meskipun beberapa tindakan ini kontroversial dan berakhir dengan pemberhentian Helmy Yahya karena dianggap tidak sesuai dengan peran penyiaran publik.

Pada Agustus 2019, TVRI bersama dengan beberapa televisi swasta nasional dan Kementerian Komunikasi dan Informatika meluncurkan siaran televisi digital di wilayah perbatasan Indonesia, sebagai persiapan untuk migrasi dari siaran analog ke digital.

Selama periode ini, usulan untuk menggabungkan TVRI dengan RRI sebagai LPP Radio Televisi Republik Indonesia juga muncul sebagai langkah untuk meningkatkan kinerja dan efisiensi lembaga penyiaran publik.

Tantangan dan perubahan ini mencerminkan usaha TVRI untuk beradaptasi dengan perkembangan teknologi dan tuntutan masyarakat, serta untuk memperbaiki citra dan kualitas layanan sebagai penyiaran publik.

Pada peringatan ulang tahun yang ke-61 pada tanggal 24 Agustus 2023, TVRI memasuki fase baru dalam perjalanan panjangnya. Meskipun telah mengalami berbagai perubahan dan tantangan selama bertahun-tahun, TVRI tetap teguh dalam upaya menjadi lembaga penyiaran publik yang mampu menjaga integritas, memberikan informasi berkualitas, dan mengedepankan kepentingan masyarakat. Harapan besar terpancar untuk TVRI dapat terus menjadi penyeimbang dalam dunia penyiaran nasional, menjadi tempat bagi berbagai pandangan, mempromosikan budaya Indonesia, dan membantu memajukan pembangunan nasional.

Dalam usianya yang ke-61, TVRI diharapkan dapat terus berinovasi dalam menghadapi perubahan teknologi dan preferensi pemirsa. Dengan mengambil pelajaran dari masa lalu, TVRI diharapkan mampu menjaga independensinya dan kualitas programnya, serta tetap menjadi rujukan utama bagi masyarakat dalam mencari informasi yang akurat dan terpercaya. Dengan semangat yang baru dan komitmen yang tak tergoyahkan, TVRI diharapkan mampu memainkan peran penting sebagai pilar penyiaran publik yang mendukung persatuan, edukasi, dan hiburan bagi seluruh lapisan masyarakat Indonesia.

Dalam mengakhiri catatan perjalanan TVRI, kesungguhan untuk terus memajukan kualitas penyiaran, menghadirkan konten yang relevan dan mendidik, serta mempromosikan nilai-nilai positif di tengah tantangan era modern, akan menjadi landasan yang kuat bagi TVRI untuk terus bersinar sebagai lembaga penyiaran publik yang dicintai dan diandalkan oleh masyarakat Indonesia.

Share:

Museum Penerangan: Memelihara Warisan Sejarah Komunikasi dan Penerangan Indonesia

Museum Penerangan. (sumber: Wikipedia)

Museum Penerangan adalah suatu tempat yang tidak hanya menyimpan, tetapi juga mempelajari, memamerkan, serta merawat benda-benda bersejarah terkait penerangan dan komunikasi. Melalui konsep uniknya, museum ini bukan hanya menjadi penjaga kekayaan masa lalu, tetapi juga menjadi media komunikasi masa keenam setelah tatap muka, radio, TV, film, dan pers. Museum ini menciptakan jembatan antara masa lampau, masa kini, dan masa mendatang, memungkinkan masyarakat untuk memahami peran penting penerangan dalam membangun kesatuan dan persatuan bangsa.

Berlokasi di lahan seluas 10.850 m2 dengan bangunan seluas 3.980 m2, Museum Penerangan adalah wujud nyata dari prakarsa Ibu Tien Soeharto, yang kemudian diresmikan oleh Presiden Soeharto pada 20 April 1993. Bangunan museum yang berbentuk bintang bersudut lima melambangkan nilai-nilai Pancasila serta lima unsur penerangan. Di taman depan, tugu dengan lambang penerangan "Api nan Tak Kunjung Padam" dikelilingi oleh lima patung juru penerang, mengilustrasikan hubungan dinamis antara pemerintah, masyarakat, dan media massa.

Bangunan ini memiliki tiga lantai yang masing-masing mewakili masa lampau, masa kini, dan masa depan. Puncak bangunan berbentuk silinder menggambarkan simbol kenthongan, yang mengingatkan kita pada unsur penerangan tradisional. Fungsi modern penerangan juga diwakili oleh Menara Antena yang menopang silinder tersebut.

Mobil OB van TVRI, salah satu koleksi yang dimiliki Museum Penerangan. (sumber: muspen.kominfo.go.id)

Pameran di Museum Penerangan terbagi menjadi dua bagian, yaitu di dalam dan di luar gedung. Koleksi di luar termasuk berbagai kendaraan bersejarah seperti mobil siaran dari Televisi Republik Indonesia (TVRI), Radio Republik Indonesia (RRI), serta mobil siaran TVRI pertama yang digunakan saat Asian Games IV tahun 1962. Pameran ini memberikan gambaran awal perkembangan media di Indonesia.

Lantai satu menampilkan sejarah komunikasi melalui berbagai media seperti film, radio, televisi, tatap muka, dan media tradisional. Terdapat juga diorama yang menggambarkan operasional penerangan dalam berbagai konteks seperti pelayanan masyarakat desa, pencerdasan nasional, dan penanggulangan bencana alam. Koleksi langka seperti mesin ketik huruf Jawa dari Keraton Surakarta, kamera perekam rapat pertama dari Kabinet RI, dan Radio Oemoem tahun 1940 juga disajikan di sini.

Salah satu sisi bagian yang berada dalam Museum Penerangan. (sumber: https://lh3.googleusercontent.com/p/AF1QipP91MnGW6YfoJu3_TgddAyuVAtRy0ZfnULphwLV=s680-w680-h510)

Lantai dua memamerkan relief sepanjang 100 m yang menggambarkan perjalanan penerbangan Indonesia dalam lima periode serta peran penerangan dalam memperkuat identitas bangsa. Di sini juga terdapat diorama yang mengilustrasikan peran penting penerangan dalam membangkitkan nasionalisme, menyatukan bangsa, dan mendorong pembangunan. Salah satu sorotan utama adalah lukisan raksasa wajah Dr. Wahidin Soedirohusodo, karya Sumidjo, yang menjadi lukisan terbesar di Indonesia.

Lantai tiga menyajikan tiga studio mini dari PFN, RRI, dan TVRI, serta display foto transparan. Museum Penerangan juga mendorong peran serta aktif masyarakat dalam pengembangan museum ini, seperti yang tercermin dalam koleksi sumbangan dari tokoh seperti Djamaludin Adinegoro, Ismail Marzuki, dan Adam Malik, yang ditempatkan dalam ruang istimewa.

Melalui Museum Penerangan, warisan sejarah komunikasi dan penerangan Indonesia dijaga, dipelajari, dan dihargai. Museum ini bukan hanya mengenang perjalanan komunikasi di masa lalu, tetapi juga memberikan wawasan bagi generasi masa kini dan masa depan tentang bagaimana media memainkan peran krusial dalam membangun bangsa. Dengan peran serta masyarakat yang berkelanjutan, Museum Penerangan akan terus menjadi tempat yang menginspirasi dan mendidik tentang nilai-nilai komunikasi dan penerangan yang mendasar bagi kemajuan bangsa.

Share:

Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI): Perjalanan Panjang Menuju Pemimpin Industri Pariwisata

Logo Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI). (sumber: website Universitas Teknologi Yogyakarta)

Sebagai bagian tak terpisahkan dari industri pariwisata Indonesia, Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) telah menjalani perjalanan yang penuh prestasi sejak berdirinya pada tahun 1969. Dengan awalnya dikenal sebagai Bali Guide Association (BGA), organisasi ini telah bertransformasi menjadi entitas yang kuat dan berpengaruh dalam mengembangkan sektor pariwisata di tanah air.

Awal mula perjalanan HPI berasal dari pendirian Bali Guide Association (BGA) pada tahun 1969. Organisasi ini, yang berbasis di Bali, bertujuan untuk menyatukan pramuwisata di pulau tersebut dalam upaya untuk memajukan industri pariwisata dan memberikan pengalaman yang lebih baik kepada para wisatawan. Dengan semakin berkembangnya sektor pariwisata, BGA mengalami perubahan yang signifikan dalam perjalanannya.

Pada tahun 1988, BGA melakukan perubahan penting dengan merubah namanya menjadi Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI). Langkah ini menandai perluasan cakupan organisasi dari sekadar asosiasi di Bali menjadi entitas nasional yang berfokus pada mengumpulkan dan mewadahi pramuwisata dari seluruh penjuru Indonesia. Transformasi ini juga mencerminkan peran HPI yang semakin penting dalam membentuk arah dan pengembangan industri pariwisata di negara ini.

HPI tidak hanya menjadi wadah bagi pramuwisata yang beroperasi di daratan, tetapi juga memberikan pelayanan dalam kegiatan pramuwisata di kapal pesiar. Dalam era di mana wisata bahari semakin populer, peran HPI dalam mendukung dan mengembangkan kompetensi pramuwisata di kapal pesiar menjadi sangat relevan. Hal ini tidak hanya berdampak pada pengalaman para wisatawan yang menggunakan kapal pesiar, tetapi juga pada citra dan daya tarik pariwisata Indonesia secara keseluruhan.

Perjalanan panjang HPI merupakan bukti nyata komitmen dan dedikasi dalam memajukan industri pariwisata Indonesia. Dengan menyediakan pelatihan, pengembangan kompetensi, dan standar profesionalisme yang tinggi bagi pramuwisata, HPI telah berperan penting dalam meningkatkan kualitas layanan kepada para wisatawan. Organisasi ini juga turut ambil bagian dalam menghubungkan para pelaku pariwisata, memfasilitasi pertukaran pengalaman dan pengetahuan, serta mempromosikan Indonesia sebagai tujuan wisata unggulan.

Dengan sejarah perubahan dan inovasi yang telah ditempuh, HPI telah menjadi pemimpin dalam industri pariwisata Indonesia. Dari awalnya sebagai BGA di Bali hingga menjadi HPI yang berpengaruh di seluruh negeri, organisasi ini terus mengambil peran aktif dalam membentuk masa depan pariwisata Indonesia. Melalui pengembangan pramuwisata yang profesional dan berkualitas, serta keterlibatan dalam berbagai sektor termasuk kapal pesiar, HPI membawa harapan cerah bagi pertumbuhan pariwisata Indonesia yang berkelanjutan.

Share:

Lokananta: Dari Studio Rekaman Hingga Destinasi Wisata Budaya Musik

Lokananta adalah entitas yang bersejarah sebagai bekas badan usaha milik negara Indonesia yang fokus pada kegiatan perekaman musik. Berbasis di Kota Surakarta, Jawa Tengah, perusahaan ini saat ini berperan sebagai salah satu cabang dari Percetakan Negara Republik Indonesia. Di balik sejarahnya yang kaya, Lokananta juga memiliki keunikan dengan menyimpan arsip file betamax yang berisi rekaman versi "Seberkas Sinar 2M-D" oleh Nike Ardilla, sebuah karya yang telah melampaui waktu dan melibatkan Dian Nitami, pada tahun 1990 dengan label MEDIA MASA DEPAN (2M-D).

Sejarah

Studio rekaman Lokananta. (sumber: Arsip digital Pemerintah Kota Surakarta)

Perusahaan Lokananta pertama kali didirikan berkat inisiatif R. Maladi pada tanggal 29 Oktober 1956 dengan nama "Perusahaan Piringan Hitam Lokananta," yang merupakan bagian dari Jawatan Radio Kementerian Penerangan Republik Indonesia. Nama "Lokananta" memiliki arti yang mendalam, yakni "seperangkat gamelan surgawi dalam pewayangan Jawa yang dapat berbunyi sendiri dengan merdu." Fokus utama Lokananta saat itu adalah menduplikasi materi siaran dari RRI. Meskipun sempat diusulkan untuk diberi nama "Indra Vox" (singkatan dari Indonesia Raya Vox), usulan tersebut ditolak oleh Presiden Soekarno. Pada tahun 1958, perusahaan ini mulai mencoba memasarkan piringan hitamnya ke masyarakat melalui RRI.

Kemudian, pada tahun 1961, status Lokananta diubah menjadi perusahaan negara dengan nama "PN Lokananta." Perusahaan mulai mengembangkan bidang usahanya menjadi label rekaman dengan spesialisasi pada lagu daerah dan pertunjukan kesenian, serta penerbitan buku dan majalah. Pada tahun 1972, produksi audio Lokananta berpindah dari piringan hitam ke kaset. Pada tahun 1983, Lokananta membentuk unit penggadaan film dalam format pita magnetik seperti Betamax dan VHS. Pada tahun 2004, pemerintah menggabungkan Lokananta ke dalam Perum Percetakan Negara RI (PNRI), menjadikannya sebagai cabang dari perusahaan tersebut. Sebagai cabang PNRI, bisnis Lokananta meliputi perekaman musik, duplikasi audio (kaset & CD), penyiaran, percetakan, dan penerbitan.

Pada tanggal 21 Februari 2017, Lokananta menjalin kerja sama dengan Langit Musik, memungkinkan lagu-lagu dari artis seperti Waldjinah dan lainnya yang tersimpan di Lokananta dapat dinikmati melalui platform tersebut. Sejumlah lagu yang ada di Lokananta juga dapat diakses melalui berbagai platform streaming seperti Joox, Spotify, dan Deezer.

Pustaka Rekaman

Lokananta memiliki koleksi yang kaya dan beragam, termasuk ribuan lagu-lagu daerah dari seluruh Indonesia serta lagu-lagu pop lama, termasuk keroncong. Selain itu, perusahaan ini memiliki lebih dari 53.000 keping piringan hitam dan 5.670 master rekaman daerah. Bahkan, koleksinya mencakup rekaman pidato-pidato Presiden Soekarno dan master Proklamasi, menghadirkan sepotong sejarah yang berharga.

Koleksi Lokananta mencakup berbagai jenis musik tradisional Indonesia, seperti gamelan Jawa, Bali, Sunda, dan Sumatra Utara (Batak), serta musik daerah lainnya dan lagu-lagu folklore atau rakyat yang penciptanya tidak diketahui. Rekaman gending karawitan gubahan dalang terkenal Ki Nartosabdo, serta karawitan Jawa dari Surakarta dan Yogyakarta, menjadi bagian dari harta koleksi Lokananta. Tersimpan juga master lagu dari penyanyi legendaris seperti Gesang, Waldjinah, Titiek Puspa, Bing Slamet, Buby Chen, dan Sam Saimun. Lokananta juga memiliki kontribusi penting dalam melahirkan beberapa penyanyi ternama di Indonesia.

Selain itu, Lokananta terlibat dalam produksi berbagai karya yang memperkaya industri musik Indonesia. Sebagai contoh, mereka memproduksi lagu "Rasa Sayange" bersama dengan lagu-lagu daerah lainnya dalam satu piringan hitam. Piringan hitam ini dibagikan kepada kontingen Asian Games pada tanggal 15 Agustus 1962. Pada tahun 2018, piringan hitam "Souvenir From Indonesia" (Asian Games 1962) dicetak ulang dalam bentuk Boxset CD, dan dibagikan kepada setiap atlet yang berpartisipasi dalam Asian Games & Asian Para Games 2018.

Lokananta juga mempunyai kehormatan memproduksi rekaman resmi pertama dari lagu kebangsaan "Indonesia Raya" dalam versi 3 stanza dengan aransemen oleh Josef Cleber. Pada tanggal 18 hingga 20 Mei 2017, lagu kebangsaan ini direkam ulang oleh Gita Bahana Nusantara di bawah asuhan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, menunjukkan peran penting Lokananta dalam melestarikan warisan budaya Indonesia.

Studio

Salah satu ruangan dan mixer yang ada di studio Lokananta. (sumber: ensiklopediajawatengah.com)

Pada tahun 1985, Studio Lokananta diresmikan oleh Menteri Penerangan Harmoko. Studio ini memiliki luas 14 x 31 meter, memberikan ruang yang luas untuk pelaksanaan rekaman dengan akustik ruangan yang sangat baik. Dengan fasilitas ini, Studio Lokananta menjadi studio terbesar di Indonesia hingga saat ini.

Studio Lokananta bukan hanya sekadar sebuah fasilitas, tetapi juga telah menjadi tempat bersejarah bagi banyak musisi dan acara penting. Salah satunya adalah Didi Kempot, seorang musisi legendaris, yang menggunakan studio ini dalam konser bertajuk "Konser Amal Dari Rumah" yang diadakan oleh Kompas TV pada tahun 2020. Konser ini tidak hanya memberikan hiburan kepada masyarakat, tetapi juga berhasil mengumpulkan dana sebesar Rp 7,6 miliar untuk membantu menanggulangi pandemi Covid-19. Sayangnya, konser ini juga menjadi konser terakhir bagi Didi Kempot sebelum beliau wafat. Studio Lokananta, dengan segala sejarah dan peran pentingnya, terus menerus menjadi bagian yang signifikan dalam industri musik dan budaya Indonesia.

Info Terkini

Pada tanggal 18 April, sebuah tonggak penting tercapai dengan penandatanganan ringkasan utama kerjasama pengelolaan Lokananta antara PT Perusahaan Pengelola Aset (PPA), yang diwakili oleh Rizwan Rizal Abidin (Direktur Investasi 1 & Restrukturisasi), dan PT Ruang Riang Lokananta sebagai operator, yang diwakili oleh Wendi Putranto (CEO Lokanantabloc).

Melalui inisiatif ini, Lokananta akan diubah menjadi destinasi wisata cagar budaya yang juga menawarkan ruang kreatif publik komersial dengan fokus pada musik. Di kawasan ini, rencananya akan didirikan studio rekaman baru, galeri seni, ruang musik, dan ruang pameran sejarah. Selain itu, pengunjung akan dapat menemukan toko cinderamata, ruang konser, ampiteater, berbagai gerai makanan dan minuman (F&B), serta gerai Usaha Kecil Menengah (UKM) yang terkurasi.

Dengan transformasi ini, para pengunjung di masa depan akan dapat merasakan berbagai aktivitas seru di dalam kawasan Lokananta yang baru. Mereka bisa menikmati pertunjukan konser, menyaksikan atraksi seni budaya, berpartisipasi dalam proses rekaman musik, mengunjungi pameran musik, berbelanja vinyl dan cinderamata musik, terlibat dalam kegiatan komunitas, menikmati suasana di kafe, atau bahkan sekadar bersantai menikmati sore di ampiteater Lokananta yang indah. Semua ini menunjukkan komitmen untuk memajukan industri musik dan budaya di Indonesia melalui ruang yang kreatif dan inspiratif seperti Lokananta.

Share:

Jumlah Pengunjung

Populer