Pindang Patin: Kuliner Khas Palembang yang Lezat dan Bersejarah

Pindang patin adalah salah satu kuliner khas yang berasal dari Kota Palembang, Sumatera Selatan. Dalam artikel ini, kita akan membahas lebih lanjut tentang hidangan yang lezat ini serta bagaimana cara membuatnya di rumah. Mari kita simak informasinya!

Pindang patin, makanan khas Palembang. (sumber: www.kompas.com)

Pindang Patin adalah salah satu hidangan khas Palembang yang telah mendapatkan popularitas yang tinggi dan menjadi favorit banyak orang. Sejarah makanan ini juga menarik, salah satu versi menyebutkan bahwa asal-usulnya dapat ditelusuri hingga zaman Kerajaan Sriwijaya yang berpusat di Palembang. Pada masa itu, ikan patin merupakan salah satu komoditas perdagangan yang diperdagangkan oleh pedagang dari Cina dan India.

Untuk menjaga agar ikan patin tetap segar selama perjalanan perdagangan, para pedagang ini memasak ikan patin dengan menggunakan bumbu pindang yang mengandung asam dan garam. Dari sinilah muncul nama "Pindang Patin". Hidangan ini terbuat dari ikan patin yang dimasak dengan bumbu pindang yang terdiri dari bawang merah, bawang putih, kunyit, jahe, cabai, gula merah, garam, dan asam jawa.

Biasanya, pindang patin disajikan dengan nasi putih dan sambal terasi yang pedas. Namun, versi lain menyatakan bahwa pindang patin merupakan hasil kreasi para ibu rumah tangga di Palembang yang ingin memberikan sentuhan berbeda dan lebih lezat pada hidangan ikan patin. Mereka memadukan bumbu pindang dengan santan kelapa untuk memberikan rasa gurih dan aroma yang menggugah selera. Dengan demikian, Pindang Patin menjadi hidangan yang tidak hanya lezat tetapi juga kaya akan rasa dan nutrisi.

Demikianlah informasi singkat mengenai pindang patin, salah satu kuliner khas dari Kota Palembang. Jika Anda ingin mencicipi kelezatan pindang patin, Anda dapat mengunjungi para penjualnya di daerah Anda atau mencari berbagai resep pindang patin dan mencoba membuatnya sendiri. Sampai jumpa di artikel kuliner berikutnya!

Share:

Becak Cina (Rikshaw): Kenangan Kendaraan Tradisional di Palembang

Becak Cina (Rikshaw) di kawasan Pasar 16. (sumber: Tropen Museum)

Becak Cina, atau sering disebut juga Rikshaw, adalah kendaraan roda dua dengan atap dari kain atau kanvas yang mudah dilipat. Kendaraan ini ditarik oleh manusia, khususnya dari etnis Cina yang sering memiliki kuncir rambut panjang. Becak Cina menjadi bagian dari sejarah transportasi di Palembang, Sumatra Selatan, dengan penariknya umumnya berasal dari etnis Cina.

Pada masa pemerintahan Kesultanan Palembang, orang Cina dianggap sebagai pendatang, dan mereka tinggal dalam kelompok di rumah-rumah rakit. Sebagai akibatnya, penarik becak, atau yang sering disebut sebagai "rikshaw," pada saat itu sebagian besar adalah orang Cina yang mungkin masih susah berbahasa Palembang. Orang Palembang sendiri sering menyebut mereka sebagai "sengkek" yang berarti "Cina dusun."

Salah satu informasi menarik adalah mengenai tarif penarikan rikshaw pada masa tersebut. Sebagai contoh, tarif dari Pasar 16 Ilir ke Pasar Lingkis (sekarang Pasar Cinde) adalah hanya seringgit sen, setara dengan 1/40 Rupiah. Uang hasil pembayaran dari penumpang biasanya ditempatkan dalam kotak di bawah pijakan kaki penumpang. Namun, seringkali ada pemuda preman, yang disebut "bujang juaro" pada masa itu, yang mencuri uang tersebut tanpa sepengetahuan penarik rikshaw.

Kendaraan ini menjadi populer sekitar tahun 1920 hingga 1940-an sebagai salah satu sarana transportasi yang umum digunakan oleh orang Belanda dan orang pribumi yang "berada" pada masa itu. Namun, seiring perkembangan zaman, jenis transportasi ini perlahan menghilang dan digantikan oleh kendaraan lain yang lebih modern. Selain itu, juga muncul pertimbangan kemanusiaan terkait dengan penarik becak, yang mendorong penggantian dengan moda transportasi yang lebih baik.

Meskipun telah lama menghilang dari jalanan Palembang, Becak Cina atau Rikshaw tetap menjadi kenangan sejarah yang berharga, mengingat perannya dalam menghubungkan orang dengan berbagai tempat di kota tersebut pada masa lalu.

Share:

Angkutan Kota Palembang: Jejak Sejarah Transportasi Kota

Mobil ketek, angkot di kota Palembang pada masa nya. (sumber: bungeko.com)

Angkutan Kota, atau yang sering disebut angkot, adalah salah satu alat transportasi darat yang ikonik di Indonesia. Ini adalah kendaraan umum berukuran kecil yang mengangkut penumpang di dalam kota dengan rute tertentu. Di Kota Palembang, Sumatera Selatan, angkot memiliki sejarah panjang yang mencerminkan perkembangan transportasi perkotaan di kawasan ini.

Pada sebelum tahun 1990, warga Kota Palembang sangat bergantung pada angkot sebagai alat transportasi utama. Pada masa itu, angkutan umum dalam kota masih sangat terbatas, dan beberapa daerah bahkan belum dijangkau oleh moda transportasi umum ini. Rute utama angkot di Palembang saat itu mencakup Lemabang, Bukit Besak, Tanggo Buntung, Kertapati, Plaju, Pakjo, KM 5, dan Sekip.

Sebelum adanya angkot, masyarakat Palembang tempo dulu mengandalkan transportasi sungai, yang pada zaman itu merupakan moda transportasi yang paling populer. Namun, perubahan ke transportasi darat terjadi karena perkembangan geografis kota dan penimbunan sungai-sungai di Palembang, yang menyebabkan penyempitan transportasi sungai.

Sampai akhirnya, setelah Kemerdekaan Republik Indonesia, muncul transportasi darat yang dikenal dengan sebutan "opelet." Opelet sendiri merupakan singkatan dari merk mobil Opel dan Chevrolet. Selain itu, ada yang mengatakan bahwa "opelet" adalah istilah untuk mobil yang mengangkut penumpang.

Kemudian, pada awal tahun 1990-an, muncullah istilah "angkot," yang secara resmi digunakan pada tahun 1991 hingga 1992 di Palembang. Meskipun istilah "angkot" lebih akrab di telinga masyarakat saat ini, sebagian orang tua di Palembang masih menggunakan istilah "opelet" yang lebih dikenal dalam sejarah transportasi kota ini.

Pada masa sebelum tahun 1990, setiap angkot sering memiliki nama yang berbeda tergantung pada pemiliknya. Namun, setelah itu, sistem penamaan angkot diubah menjadi menggunakan nomor pada setiap mobil.

Menurut cerita orang tua di Palembang, rute opelet sudah ada sejak tahun 1960, dengan rute dari 16 Ilir ke Bukit, sebelum adanya Jembatan Ampera. Setelah Jembatan Ampera selesai dibangun pada tahun 1965, kawasan di bawahnya dijadikan sebagai terminal opelet dengan berbagai rute.

Mobil angkutan umum pertama kali yang digunakan disebut "mobil ketek" karena mesinnya mirip dengan perahu ketek. Mobil ini juga dihidupkan dengan cara diengkol seperti sepeda motor, bukan dengan starter mesin. Mobil ketek memiliki tiga pintu, dua di bagian depan dan satu di tengah. Penumpang opelet di masa itu duduk berhadapan. Kapasitas penumpangnya lebih dari enam orang, dengan empat orang di belakang dan dua hingga tiga orang di depan.

Rute opelet di Palembang ditetapkan setelah Kemerdekaan RI, dan sebagian besar berjarak sekitar 5 kilometer dari Jembatan Ampera, merujuk pada lokasi pasar seperti Pasar Sekip, Lemabang, Palimo, dan Tanggo Buntung.

Sejarah transportasi kota di Palembang mencerminkan evolusi perkembangan kota itu sendiri. Dari transportasi sungai ke darat, dari "opelet" ke "angkot," setiap tahap menggambarkan bagaimana masyarakat Palembang beradaptasi dengan perubahan dalam kehidupan perkotaan.

Share:

Dampak Dari Tidak Melestarikan Kuliner Tradisional Indonesia oleh Generasi Milenial

Animasi sate, salah satu makanan khas Indonesia. (sumber: www.lifestyle.okezone.com)

Kuliner tradisional Indonesia adalah warisan berharga yang telah diwariskan dari generasi ke generasi. Hidangan-hidangan ini tidak hanya enak tetapi juga mencerminkan kekayaan budaya dan sejarah bangsa. Namun, ada kekhawatiran bahwa generasi milenial saat ini mungkin tidak memberikan perhatian yang cukup terhadap pelestarian kuliner tradisional ini. Mari kita bahas dampak dari tidak melestarikan kuliner tradisional Indonesia oleh generasi milenial.

1. Kehilangan Warisan Budaya

Kuliner tradisional Indonesia adalah bagian integral dari warisan budaya kita. Setiap hidangan memiliki cerita dan makna tersendiri yang melekat pada tradisi dan sejarah setempat. Jika generasi milenial tidak melestarikannya, kita akan kehilangan aspek berharga dari identitas budaya kita sendiri.

2. Penurunan Kualitas Gizi

Kuliner tradisional sering kali mencakup bahan-bahan alami yang sehat dan kaya nutrisi. Makanan seperti rendang, gado-gado, atau soto ayam merupakan contoh hidangan yang seimbang dalam gizi dan memberikan manfaat kesehatan. Namun, ketika generasi milenial lebih cenderung mengonsumsi makanan cepat saji dan makanan modern yang kurang sehat, kita mungkin akan melihat penurunan kualitas gizi dalam masyarakat.

3. Pengaruh Budaya Asing yang Mendominasi

Jika kuliner tradisional tidak dilestarikan, generasi milenial mungkin akan lebih terpapar pada pengaruh budaya asing yang mendominasi industri makanan dan minuman. Ini bisa menyebabkan hilangnya keanekaragaman kuliner dan pengecilan ruang bagi hidangan-hidangan lokal yang khas.

4. Kehilangan Lapangan Kerja

Industri makanan adalah salah satu sektor ekonomi terbesar di Indonesia. Jika kuliner tradisional tidak dijaga, sejumlah usaha kuliner tradisional, khususnya yang dikelola oleh UMKM, dapat menghadapi kesulitan. Hal ini dapat berdampak pada hilangnya lapangan kerja di sektor ini.

5. Kurangnya Keterlibatan Sosial

Kuliner tradisional sering kali menjadi pusat interaksi sosial dan acara keluarga. Melestarikannya berarti mempertahankan tradisi berkumpul dan berbagi di sekitar meja makan. Jika generasi milenial lebih cenderung menghabiskan waktu di luar dan tidak mempraktikkan tradisi makan bersama, kita mungkin akan mengalami kurangnya keterlibatan sosial dalam masyarakat.

6. Menghargai Keberagaman

Kuliner tradisional Indonesia sangat beragam, mencerminkan kekayaan budaya yang luar biasa. Melestarikannya adalah cara untuk menghargai dan merayakan keberagaman bangsa kita. Jika generasi milenial tidak menghargai kuliner tradisional ini, kita bisa kehilangan salah satu aspek penting dalam memahami dan merayakan kekayaan budaya Indonesia.

Kesimpulannya, melestarikan kuliner tradisional Indonesia adalah tanggung jawab bersama kita semua, termasuk generasi milenial. Ini bukan hanya tentang menjaga rasa lezatnya makanan, tetapi juga tentang menjaga warisan budaya yang tak ternilai harganya. Dengan melestarikan kuliner tradisional, kita bisa memastikan bahwa kekayaan budaya Indonesia akan tetap hidup dan berkembang untuk generasi mendatang.

Share:

Jejak Sejarah Hotel Schwartz dan Hotel Smit di Palembang

Hotel Schwartz / Hotel Musi di Jalan Merdeka (Raadhuisweg) pada tahun 1940. (sumber: Instagram @tropenmuseum)

Pada era Hindia Belanda, Hotel Joling yang lebih dikenal dengan nama Hotel Schwartz merupakan salah satu hotel terkemuka di Kota Palembang. Hotel ini memiliki sejarah panjang yang mencerminkan perkembangan kota ini pada masa itu. Dibangun pada tahun 1923, hotel ini adalah hasil kerja sama antara pengusaha Tionghoa bernama Lim Kim Sik dan pemerintah kolonial Belanda.

Hotel Schwartz atau Hotel Joling menjadi ikon keunggulan dan kemewahan dalam bidang perhotelan di Palembang pada zamannya. Pelayanan yang berkualitas dan fasilitas yang lengkap membuatnya menjadi tempat menginap yang populer bagi warga lokal dan juga para pelancong dari luar kota.

Namun, setelah kemerdekaan Indonesia, Hotel Schwartz mengalami perubahan nama dan fungsi. Hotel ini sempat berganti nama menjadi Hotel Musi. Perubahan nama ini mungkin merupakan bagian dari usaha penyesuaian dengan semangat kemerdekaan yang baru diraih oleh Indonesia.

Sayangnya, pada perkembangannya, Hotel Schwartz atau Hotel Musi tidak berlanjut sebagai hotel dan tidak lagi menjadi destinasi perhotelan yang terkenal. Bangunan ini kemudian mengalami perubahan fungsi dan saat ini digunakan sebagai kantor Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BKSDM) di Kota Palembang.

Selain Hotel Schwartz, ada juga Hotel Smit yang menjadi bagian dari sejarah perhotelan di Palembang. Sayangnya, Hotel Smit tidak lagi berdiri karena telah dirobohkan dan digantikan oleh bangunan lain, seperti kantor pajak madya Palembang.

Jejak sejarah kedua hotel ini adalah bukti nyata dari perkembangan Kota Palembang selama berabad-abad. Meskipun bangunan-bangunan ini mungkin telah berubah fungsi atau bahkan hilang dari pemandangan, mereka tetap menjadi bagian penting dari warisan sejarah dan budaya kota ini.

Share:

Jumlah Pengunjung

Populer