Rumah Sakit Pelabuhan Palembang: Pusat Pelayanan Kesehatan di Kota Palembang

Rumah Sakit Pelabuhan Palembang. (sumber: halodoc.com)

Rumah Sakit Pelabuhan Palembang, yang juga dikenal sebagai "Rumah Sakit Boom Baru," adalah lembaga kesehatan terkemuka di Sumatra Selatan, Indonesia. Terletak di Jalan Mayor Memet Sastrawirya, Palembang, rumah sakit ini merupakan salah satu rumah sakit tipe C dengan kapasitas sebanyak 77 tempat tidur. Rumah Sakit Pelabuhan Palembang menyediakan berbagai fasilitas kesehatan yang mencakup layanan rawat jalan, rawat inap, fasilitas medis, fasilitas kesehatan tingkat 1, dan fasilitas umum.

Layanan Unggulan

Rumah Sakit Pelabuhan Palembang menawarkan sejumlah layanan unggulan kepada pasiennya. Beberapa di antaranya adalah:

  1. Phacoemulsifikasi: Layanan ini berkaitan dengan prosedur bedah mata modern yang digunakan untuk mengobati katarak. Phacoemulsifikasi merupakan metode yang efektif untuk menghilangkan katarak dan memulihkan penglihatan pasien.
  2. Medical Check-Up: Rumah Sakit Pelabuhan Palembang menyediakan program medical check-up khusus bagi tenaga kerja di bidang pelayaran. Ini bertujuan untuk memastikan bahwa para pekerja pelayaran menjaga kesehatan mereka dengan baik.
  3. One Day Care: Layanan One Day Care adalah solusi bagi pasien yang membutuhkan perawatan medis tetapi tidak memerlukan rawat inap. Pasien dapat menjalani prosedur medis dan pulang pada hari yang sama.
  4. Vaksinasi: Rumah Sakit ini juga menyediakan layanan vaksinasi untuk melindungi pasien dari berbagai penyakit menular. Vaksinasi adalah cara yang efektif untuk mencegah penyakit-penyakit tertentu.

Tenaga Medis dan Spesialisasi

Untuk memberikan pelayanan kesehatan yang berkualitas, Rumah Sakit Pelabuhan Palembang memiliki tim tenaga medis yang terdiri dari berbagai spesialis. Tim ini terdiri dari:

  • Dokter Umum: 12 dokter umum siap memberikan layanan medis umum kepada pasien.
  • Dokter Gigi: Ada 5 dokter gigi yang berfokus pada perawatan kesehatan gigi dan mulut.
  • Dokter Spesialis: Sebanyak 35 dokter spesialis dengan berbagai bidang, termasuk obstetri dan ginekologi, THT, penyakit dalam, bedah, bedah plastik, bedah tulang, klinik dan kelamin, anak, mata, syaraf, dan patologi, tersedia untuk memberikan diagnosis dan perawatan yang sesuai.

Visi dan Misi

Rumah Sakit Pelabuhan Palembang memiliki visi dan misi yang kuat untuk mengarahkan penyediaan layanan kesehatannya. Visi mereka adalah "Menjadi rumah sakit yang memberikan layanan profesional dengan standar kelas dunia." Sementara misi mereka adalah "Menjalankan usaha layanan kesehatan berkualitas, berorientasi pada sinergi sumber daya serta pertumbuhan yang berkelanjutan."

Rumah Sakit Pelabuhan Palembang berkomitmen untuk memberikan pelayanan kesehatan terbaik kepada masyarakat Sumatra Selatan dan sekitarnya. Dengan fasilitas modern, tim medis yang berpengalaman, dan beragam layanan kesehatan, rumah sakit ini terus menjadi salah satu pilihan utama bagi mereka yang mencari perawatan medis yang berkualitas di daerah tersebut.

Share:

Menyelami Kelezatan Tekwan: Kuliner Tradisional Palembang yang Menggugah Selera

Halo para pembaca Inkarnasi Kata! Dalam artikel kali ini, kami akan menghadirkan informasi menarik tentang kuliner tradisional dari Palembang, yaitu tekwan. Mari kita telusuri lebih lanjut mengenai kuliner yang menggugah selera ini.

Tekwan, makanan khas Palembang. (sumber: Shutterstock/tyasindayanti)

Tekwan, hidangan khas Palembang ini terbuat dari campuran daging ikan dan tapioka yang diformat menjadi bulatan kecil-kecil, kemudian disajikan dalam kuah udang dengan citarasa yang khas. Biasanya, tekwan dilengkapi dengan sohun, potongan bengkoang, jamur, dan diberi sentuhan daun bawang, seledri, serta bawang goreng. Asal usul nama "tekwan" sendiri berasal dari istilah "Berkotek Samo Kawan" dalam bahasa Palembang, yang artinya duduk bersama teman untuk berbincang-bincang, atau juga bisa terkait dengan bahasa Hokkien, tâi-oân (台丸), yang bunyinya mirip dengan "Taiwan" (Hanzi: 台灣; Pe̍h-ōe-jī: Tâi-oân).

Demikianlah rangkuman singkat mengenai tekwan, sebuah hidangan khas dari Palembang. Jika Anda ingin mencicipi tekwan, Anda dapat mencari penjualnya di daerah Anda atau mencoba berbagai resep tekwan untuk menciptakannya sendiri. Sampai jumpa di artikel kuliner berikutnya!

Share:

Pelabuhan Boom Baru Palembang: Sejarah, Lokasi, dan Perkembangan Terkini

Pelabuhan Boom Baru Palembang. (sumber: netralnews.com)

Pelabuhan Boom Baru adalah salah satu pelabuhan penting di Palembang, Sumatera Selatan. Pelabuhan ini memiliki peran vital dalam mendukung aktivitas logistik dan penumpang di wilayah tersebut. Berikut adalah informasi penting mengenai Pelabuhan Boom Baru:

Lokasi dan Pengelolaan Pelabuhan Boom Baru

Pelabuhan Boom Baru terletak di tepian Sungai Musi, sekitar 108 kilometer dari muara sungai. Secara administratif, pelabuhan ini masuk dalam wilayah Kota Palembang. Pengelolaan Pelabuhan Boom Baru dilakukan oleh PT Pelabuhan Indonesia (Persero), atau yang dikenal sebagai Pelindo, sebuah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang bergerak dalam bisnis kepelabuhanan.

Sejarah Pelabuhan Boom Baru

Sejarah pelabuhan di Palembang sudah ada sejak abad ke-7 hingga abad ke-10 Masehi, terutama pada masa keemasan Kerajaan Sriwijaya. Pelabuhan ini merupakan pusat perdagangan antar-bangsa dan pusat kebudayaan agama Budha di Asia Tenggara. Lokasi pelabuhan pada masa Sriwijaya tidak sama dengan Pelabuhan Boom Baru saat ini, melainkan lebih ke arah hulu, tepatnya di tepi Sungai Tangga Buntung.

Pada era Kolonial Belanda, sekitar tahun 1821, lokasi pelabuhan pindah ke Boom Jati, depan Benteng (dekat Rumah Sakit AK. GANI saat ini). Kemudian, pada tahun 1914, pelabuhan dipindahkan ke arah hilir, yang sekarang dikenal sebagai Gudang Garam. Baru pada tahun 1924, lokasi Pelabuhan Boom Baru seperti yang kita kenal saat ini ditetapkan secara resmi oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda dalam Staatblad Nomor 545 tahun 1924.

Setelah Indonesia merdeka, pengelolaan Pelabuhan Boom Baru beralih ke ALRI (Angkatan Laut Republik Indonesia) dan selanjutnya diserahterimakan ke PN Pelabuhan, yang kemudian menjadi cikal bakal PT Pelabuhan Indonesia (Persero) atau Pelindo.

Perkembangan Terkini dan Pelabuhan Tanjung Carat

Dalam perkembangannya, Pelabuhan Boom Baru mengalami kendala akibat naiknya lalu lintas kapal dan pendangkalan sungai. Hal ini membuat pelabuhan ini tidak lagi cocok untuk bongkar muat kapal-kapal besar. Terlebih lagi, banyak komoditas yang dikapalkan dari Sumatera Selatan, seperti batu bara, curah cair, karet, pupuk, dan lainnya.

Sebagai alternatif, pemerintah terus mengembangkan Pelabuhan Tanjung Carat di Banyuasin. Hal ini dikarenakan lokasi Pelabuhan Boom Baru yang terletak di tengah-tengah kota Palembang. Pelabuhan Tanjung Carat dirancang untuk menangani kapal-kapal logistik yang lebih besar dan lebih modern.

Jadwal Kapal di Pelabuhan Boom Baru

Selain melayani kapal logistik, Pelabuhan Boom Baru juga melayani kapal penumpang dengan beberapa rute. Salah satu rute yang paling rutin adalah tujuan Muntok, Belitung. Kapal yang melayani rute ini, seperti Kapal Cepat Bahari EB3B, beroperasi pada setiap pukul 7.30 pagi pada hari Senin, Rabu, dan Jumat.

Demikianlah gambaran mengenai Pelabuhan Boom Baru di Palembang, termasuk sejarahnya, lokasinya, dan perkembangan terkini. Pelabuhan ini memainkan peran penting dalam konektivitas dan transportasi di wilayah tersebut serta berperan sebagai salah satu infrastruktur vital dalam perekonomian Indonesia.

Share:

Masjid Lawang Kidul: Keindahan Arsitektur dan Sejarah Perjuangan

Masjid Lawang Kidul. (sumber: www.sumsel24.com)

Masjid Lawang Kidul, salah satu masjid tertua di Palembang, Sumatra Selatan, memiliki sejarah panjang yang mencerminkan pentingnya peran agama Islam dalam perkembangan kota ini. Dibangun pada tahun 1881, masjid ini telah menjadi salah satu simbol bersejarah di Palembang. Artikel ini akan menjelaskan sejarah masjid Lawang Kidul serta mencermati aspek arsitektur dan perjuangan seputar masjid ini.

Sejarah Masjid Lawang Kidul

Pada abad ke-19, pertumbuhan komunitas Muslim di Palembang sangat pesat, tetapi sarana peribadatan (masjid) yang ada tidak memadai untuk menampung jumlah yang semakin meningkat. Masjid Agung Palembang adalah satu-satunya masjid jami' di kota ini yang memenuhi syarat untuk melaksanakan shalat Jumat. Untuk mengatasi masalah ini, Mgs. H. Abdul Hamid (Ki Marogan), seorang ulama dan pengusaha sukses, memutuskan untuk membangun dua masjid baru di Palembang.

Pada tahun 1871 dan 1881, Ki Marogan membangun dua masjid penting: Masjid Muara Ogan (Masjid Ki Marogan) di Kampung Karang Berahi atau muara Sungai Ogan, dan Masjid Lawang Kidul di Kampung Lawang Kidul (5 Ilir). Masjid Muara Ogan melayani warga dari kampung 1, 2, 3, 4, 5 ulu serta kampung Karang Berahi, sementara Masjid Lawang Kidul melayani warga dari kampung 1, 2, 3, 4, 5 Ilir dan Kampung Tuan Kapar 14 Ulu. Semua masjid yang dibangun oleh Ki Marogan dilengkapi dengan perlengkapan seperti lampu, lampu kandil, lampu satron, dan peralatan lainnya yang berkaitan dengan masjid.

Sepuluh tahun setelah pembangunan Masjid Lawang Kidul, kedua masjid yang dibiayai sendiri oleh Ki Marogan ini diwakafkan menjadi milik umat Muslim di kota Palembang.

Arsitektur Masjid Lawang Kidul

Masjid Lawang Kidul memiliki arsitektur yang mirip dengan Masjid Agung Palembang, meskipun lebih kecil dalam ukuran. Salah satu ciri khasnya adalah menara masjid yang mempertahankan bentuk yang unik. Atap menara ini berbentuk limas segi empat yang bertingkat dua. Pada atapnya, terdapat tanduk-tanduk yang mengingatkan pada atap Masjid Agung Palembang yang terinspirasi oleh arsitektur masjid Hunan di Cina.

Interior Masjid Lawang Kidul didukung oleh empat tiang kayu utama yang besar, serta dua belas tiang lain yang lebih ramping. Keunikan lain dari interior masjid ini terlihat pada mimbar, yang dihiasi dengan bendera hijau bertuliskan kalimat-kalimat Islam seperti syahadat dan asma'ul husna. Mimbar ini juga diukir dengan gaya khas Palembang, dengan ukiran yang mencantumkan tanggal wakaf, yaitu 26 Sya'ban 1310 Hijriyah atau 17 September 1892 Masehi.

Perjuangan dan Kontroversi

Selama sekitar 21 tahun, Masjid Lawang Kidul menjadi pusat kontroversi terkait pelaksanaan shalat Jumat. Konflik ini melibatkan dua kelompok ulama yang berbeda pendapat tentang sahnya pelaksanaan shalat Jumat di masjid ini. Perselisihan ini berakhir pada tahun 1914, ketika salah satu kelompok pengurus masjid meminta fatwa dari ulama Betawi, Syech Yusuf Ha’yat, yang membolehkan pelaksanaan shalat Jumat di Masjid Lawang Kidul. Fatwa ini, yang turut didukung oleh Syarikat Indonesia cabang Palembang, mengizinkan shalat Jumat dengan catatan pelaksanaannya harus 30 menit setelah shalat Jumat di Masjid Agung.

Kontroversi ini telah menjadi bagian dari sejarah masjid ini dan mencerminkan perjuangan masyarakat setempat dalam menjaga hak mereka untuk beribadah di masjid ini.

Masjid Lawang Kidul adalah contoh nyata arsitektur yang memukau dan sejarah yang kaya. Sebagai salah satu masjid tertua di Palembang, masjid ini terus menjadi pusat kegiatan keagamaan dan budaya bagi warga setempat, serta menarik perhatian para pengunjung yang ingin menjelajahi warisan sejarah kota Palembang.

Share:

Kue Rambut: Camilan Khas Nusa Tenggara Timur yang Menggoda Selera

Nusa Tenggara Timur (NTT) adalah salah satu provinsi di Indonesia yang kaya akan keindahan alam, budaya, dan kuliner tradisional. Selain dikenal dengan keindahan pantainya yang memukau, daerah ini juga menyimpan sejumlah camilan khas yang tak kalah menarik. Salah satunya adalah Kue Rambut, camilan yang memiliki bentuk unik dan cita rasa yang menggoda selera.

Kue Jawada atau Kue Rambut, salah satu kuliner khas Nusa Tenggara Timu (NTT).
(sumber: www.ticmpu.id)

Kue Rambut adalah camilan khas pulau Flores dan Alor di NTT. Dalam bahasa setempat, kue ini juga dikenal dengan sebutan "Jawada". Uniknya, kue ini memiliki bentuk yang menyerupai rambut keriting, sehingga dinamakan Kue Rambut. Bentuknya bergelombang seperti bihun yang digoreng kering dan berwarna cokelat keemasan yang menggoda selera.

Kue Rambut bukan hanya sekedar camilan, tetapi juga memiliki nilai historis dan budaya bagi masyarakat setempat. Camilan ini sering dihidangkan pada acara-acara istimewa, upacara adat, atau perayaan penting lainnya. Seiring berjalannya waktu, Kue Rambut juga telah menjadi oleh-oleh khas yang banyak diminati oleh para wisatawan yang datang ke NTT.

Proses Pembuatan Kue Rambut

Membuat Kue Rambut sebenarnya tidak terlalu sulit, namun dibutuhkan ketelitian dan ketrampilan dalam proses pembuatannya. Adonan Kue Rambut terbuat dari campuran tepung beras, gula aren, santan, air nira, garam, dan minyak. Campuran bahan-bahan tersebut harus memiliki konsistensi yang tepat, tidak terlalu kental maupun terlalu encer.

Setelah adonan siap, langkah selanjutnya adalah memberikan bentuk pada kue agar menyerupai rambut keriting. Masyarakat setempat biasanya menggunakan batok kelapa yang diberi lubang kecil-kecil atau kaleng yang dilubangi. Adonan dituangkan ke atas permukaan minyak panas dan digoyangkan hingga membentuk bentuk seperti rambut dengan lapisan yang tipis. Proses ini memerlukan ketelitian agar bentuk kue tetap cantik dan menarik.

Agar Kue Rambut tetap renyah dan enak, kue ini digoreng dengan menggunakan minyak yang banyak dan panas. Metode deep frying juga sering digunakan untuk mendapatkan hasil yang lebih baik. Setelah digoreng hingga kecokelatan, Kue Rambut siap disajikan.

Citra Rasa Kue Rambut

Kue Rambut memiliki cita rasa yang unik dan khas. Aroma campuran antara tepung yang digoreng dengan wangi gula merah memberikan sensasi yang menggoda selera. Camilan ini memiliki rasa manis dengan sentuhan gurih yang membuatnya begitu disukai oleh banyak orang.

Bentuk unik dan cita rasa yang menggoda membuat Kue Rambut menjadi camilan khas yang sulit ditemukan di daerah lain. Kue ini memiliki daya tarik tersendiri bagi siapa pun yang mencobanya. Dalam menyimpan Kue Rambut agar tetap segar dan renyah, biasanya masyarakat setempat menyimpannya dalam stoples yang kering dan kedap udara.

Kue Rambut dalam Budaya dan Tradisi Lokal

Selain sebagai camilan lezat, Kue Rambut juga memiliki peran penting dalam budaya dan tradisi lokal di NTT. Camilan ini sering dihidangkan pada berbagai acara adat atau perayaan penting, seperti acara perkawinan, khitanan, atau upacara adat lainnya. Di tengah kemajuan zaman dan perkembangan makanan modern, Kue Rambut tetap mempertahankan keasliannya sebagai camilan khas tradisional yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Kue Rambut juga memiliki nilai sosial dan ekonomi bagi masyarakat setempat. Banyak perajin kue tradisional yang mengandalkan produksi Kue Rambut sebagai sumber pendapatan mereka. Camilan ini menjadi salah satu potensi wisata kuliner di NTT, sehingga para wisatawan yang datang ke daerah ini juga ikut berkontribusi dalam mendukung perekonomian lokal.

Keunikan Kue Rambut menjadi daya tarik bagi para wisatawan yang ingin mencicipi kuliner khas NTT. Kini, Kue Rambut telah menjadi salah satu ikon kuliner dari pulau Flores dan Alor. Para pengusaha kuliner juga semakin kreatif dalam mengembangkan dan menyajikan camilan ini dengan berbagai variasi rasa dan bentuk.

Bukan hanya bagi masyarakat setempat, tetapi bagi siapa pun yang mencicipi Kue Rambut, camilan ini akan meninggalkan kenangan kuliner yang tak terlupakan. Rasakan sendiri kelezatan Kue Rambut dan nikmati pesona kuliner tradisional Nusa Tenggara Timur yang memikat!

Share:

Jumlah Pengunjung

Populer